Selasa, 18 September 2018

Niatkan Ikhlas

0

Niatkan Ikhlas

Emak kita lanjut ngobrasnya ya. He. Ngobrol santai😍

Eh, tahu gak mak? Awal hijrah itu yang paling penting adalah niat. Karena innamal a'malu binniat. Sesungguhnya segala amal tergantung niatnya. Tuh kan mak. Jadi jangan sampai niatnya salah dalam berhijrah. Terlebih niatnya udah gak lurus. Kan bisa berabe😄

Ngomong-ngomong masalah semen. Eh, salah😄 Ngomong-ngomong masalah niat. Tahu gak mak. Niat itu letaknya di hati. Iya, dihati kita yang paling dalam. Makanya urusan niat. Yang tahu cuman kita ma Alloh Swt. Yang tahu isi hati kita, ya hanya Alloh. Gak perlu takut mak. Ane gak bisa meramal. Gak bisa nebak juga isi hatinya emak😅

Jangan sampe meniatkan segala sesuatu. Cuman karena manusia. Cuman ingin dipuji. Apalagi disanjung orang. Kan jadi sayang. Sudah capek-capek beramal. Eh amalannya hilang. Menguap. Karena salah niat. Kalo niatnya untuk manusia. Ya, hanya sebatas dapat sanjungan manusia. Gak bakalan dapat sanjungan Alloh.

So, niatkan segala amal. Terlebih hijrahnya emak untuk Lillah. Ikhlas semata-mata untuk Alloh Swt. Kalo ada orang yang nyanjung. Tutup telinga saja😍. Biar gak menguap amalannya. Khawatir niatnya jadi berbelok. Jadi Riya'. Kan gak dapet apa-apa jadinya.

Sulit memang mak. Namun bisa kok dipelajari. Tinggal lempengin aja. Asah terus ilmu. Hadiri majlis ilmu. Banyak baca referensi yang menguatkan ilmu. Berteman dengan orang yang banyak ilmu. Terlebih ilmu tentang Islam ini. Niscaya semakin hari. Semakin semangat.

Ini ada hadits untuk penguat kita ya mak.

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan ) tergantung niatnya ). Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya ) karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan“.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).

# YEHH 02_YukEmakHijrahHijrah
#CambukDiri 16
#EmakJagoBisnis
#revowriter

Yuk Emak Hijrah Hijrah

0

Yuk Emak Hijrah Hijrah

Kok ada ya. Ga mau disebut emak? Padahal tampang udah emak-emak. Kayake sih udah punya cucu keles, he..Penginnya dibilang ibu. Ibu bangsa.

Emak itu sebutan unik. Menarik. Estetik. He.. cari deh yang berakhiran ik lagi. Hayo mikir ya😍

Emak itu penuh power. Energizer. Inspirator. Gak ada duanya dah.

Semua emak-emak seperti itu gak ya? Ya belum tentu sih. Banyak juga emak-emak yang egois. Tak peduli kanan kiri. Tak peduli ma kondisi. Yang penting perut keisi. Anak suami bisa diurusi. Ya udah. Cuman sekedar urusan sumur, dapur, kasur. Jiah, berarti urusan rumahan saja ya😂

Tak sedikit juga. Emak yang semangat loh neng. Urusan rumah beres. Bertetangga pun beres. Anak-anak pada sholeh. Rumah bersih. Ngaji juga. Eh, dakwah juga. Merasa risih dengan kehidupan yang penuh topeng. Topeng kedustaan yang selalu dimainkan.

Ini nih emak hijrah masa kini. Selalu belajar. Mengaji. Memberi motivasi. Selalu menginspirasi. Iya, karena perubahan itu bermula dari pola pikir. So, selalu nambah ilmu yang benar. Untuk asupan akalnya. Hati tertata karena ridhoNya. Meningkatkan ibadah untuk ketaatan terhadapNya.

Tak sekedar bekal diri. Bekal untuk umat pun dikumpulkan. Tak mau diam dalam kemaksiatan. Jangan sampai umat terjerumus dalam kesesatan. Sehingga menjauhkan dari RahmatNya.

Yuk emak. Saatnya hijrah. Jalan kebenaran memang sulit. Kadang juga mendaki. Islam dianggap asing. Namun berbahagialah kita yang dianggap asing.

Kebenaran yang muncul dari Robbul Izzati harus dijunjung tinggi. Ditaati. Diterapkan dalam kehidupan ini.

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing” (HR. Muslim)

#YEHH 01_YukEmakHijrahHijrah
#CambukDiri 15
#EmakJagoBisnis
#revowriter

Selasa, 11 September 2018

Rupiah Melemah, Rakyat Sudah Lelah oleh : Nurul Sakinah Bayti

0


Rupiah Melemah, Rakyat Sudah Lelah

Oleh : Nurul Sakinah Bayti, S.Hut. (Member Developer Property Syariah)

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dibuka pada level 14.835 per Dolar Amerika Serikat (AS), melemah tipis dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 14.820.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan pelemahan nilai tukar saat ini berbeda dengan kondisi pada 1998. Pelemahan yang terjadi saat ini juga terjadi di negara lain.

"Enggak perlu dikhawatirkan karena negara lain juga melemah. Bahkan jauh lebih daripada kita. Negara seperti Australia juga melemah sama dengan kita, Selandia Baru juga melemah sama seperti kita," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (10/9/2018).

 Bukan dengan Membandingkan

Iya, bisa dikatakan pembenaran. Terhadap kondisi yang terjai di negeri ini. Padahal Melemahnya nilai rupiah, berimbas pada banyak hal. Kenaikan harga kebutuhan pokok. Transportasi mahal. Naiknya BBM (bahan bakar minyak). Biaya sekolah ikut naik. Bahkan biaya  kesehatan pun turut kena imbasnya.

Mencari pembanding antara Indonesia dengan negara lain. Rasanya bukan solusi. Terlebih negara yang dijadikan pembanding. Secara kekayaan alam, jauh di bawah Indonesia. Sehingga bukan perbandingan aple to aple. Tak sekelas lah bahasa sederhananya.

Melemahnya rupiah tahun ini. Bukan kali pertamanya. Namun di tahun inilah nilai rupiah justru tak berarti. Sampai menembus angka hampir Rp 15.000 per 1 $. Rasanya gak ada nilainya mata uang kita.

Bagi rakyat bawah. Merasa lelah dengan semua ini. Jengah dengan kondisi ekonomi. Karena hampir setiap saat rupiah melemah. Dampaknya sekedar mencukupi kebutuhanpun susah.

Uang kertas menjadi salah satu penyebab menurunnya nilai rupiah. Mata uang yang tidak memiliki nilai intrisnsik pada bendanya. Sehingga ketika uang hilang atau terbakar. Menjadi tidak berarti. Sifat mata uang kertas ini, akan sama dengan kertas-kertas biasa. Jika hilang/rusak/terbakar menjadi tak bernilai.

Menstandarkan mata uang rupiah dengan mata uang dollar. Menjadi masalah berikutnya. Saat kondisi dollar membaik, stabil ekonominya, politik tak bergejolak. Justru saat itulah mata uang kita akan melemah. Sebaliknya jika kondisi rupiah membaik, ekonomi stabil, gejolak poltik tak nampak. Rupiah akan menguat. Ini semua bisa terjadi karena permainan di bursa. Iya pasar uang yang menjadi standar lemah dan kuatnya mata uang. Semuanya bisa dibuat. Tergantung siapa yang punya kepentingan.

Kembali ke Emas dan Perak

Saat uang kertas punya banyak kelemahan. Terlebih uang kertas yang tidak dijamin dengan emas. Inilah yang sering mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi. Inflasi mudah terjadi. Bahkan harga-harga berbagai komiditi ikut meninggi.

Kembali ke mata uang emas dan perak menjadi pilihan tepat. Kenapa harus mata uang emas dan perak? Ada beberapa keunggulan mata uang emas jika diterapkan diantaranya :

Pertama, mata uang emas dan perak memiliki nilai intrinsik pada dirinya sendiri. Berbeda dengan uang kertas. Yang tak memiliki nilai intrinsik pada barangnya.

Kedua, mata uang emas dan perak akan menjaga kestabilan moneter. Dengan menggunakan mata uang emas dan perak. Suatu negara tidak akan seenaknya mencetak jumlah uang yang beredar. Jumlah uang yang dicetak ya berdasar cadangan emas dan perak dari suatu negara tersebut. Sehingga tidak akan terjadi inflasi.

Ketiga, mata uang emas dan perak akan menciptakan keseimnangan neraca ekonomi antar negara. Sehingga tidak ada campur tangan bank sentral. Mekanisme ini disebut automatic adjusmen (penyesuaian otomatis) yang bekerja untuk menyelesaikan ketekoran dalam perdagangan.

Keunggulan mata uang emas dan perak ini masih banyak lagi. Pilhannya adalah mau atau tidaknya suatu negara kembali ke mata uang emas dan perak. Sebagai pilihan terbaik untuk menyelamatkan perekonomian rakyat. Pastinya juga kembali ke sistem ekonomi Islam yang akan menjaga kestabilan kebutuhan hidup rakyat. Dan mengantarkan pada kesejahteraan rakyat.

Senin, 10 September 2018

Hebatnya Dinar 2 oleh : Nurul Sakinah Bayti

0

Hebatnya Dinar 2

Oleh : Sakinah Bayti

Saat masih sekolah SD dulu. Uang saku Rp 5 sudah cukup kenyang untuk jajan. Krupuk pecel dan es sirup. Cukuplah untuk menahan lapar sampai dhuhur.

Padahal saat itu. Kalo dipikir-pikir. Belum tentu tiap hari dapat uang jajan. Paling-paling uang jajannya cuma saat olahraga. Selebihnya gak pernah dapat😄

Wah Rp 5 rupiah laku untuk jajan? Tahun berapa ya? Pada mikir kan🤣 Pastinya yang sezaman denganku gak akan nanyak deh😍 Hayo ngacung yang merasa sama. Tos dulu ah🙌

Kalo hari ini anak-anak SD uang sakunya minim Rp 5.000,-. Bahkan bisa lebih. Buat jajan aja bahkan bisa kurang. Apalagi kalo jajannya di swalayan. Ya pasti kurang lah😄

Nah, sudah mulai terbaca kan? Uang zaman dulu dengan zaman sekarang nilainya sangat beda. Bahkan tiap masa. Nilai uang tak berarti. Gak ada ajine kata orang jawa. Apalagi buat ibu-ibu nih. Uang belanjanya makin sedikit. Eh, harga-harga serba melangit. Masak disuruh puasa terus. Cetus ibu-ibu yang jengkel dengan kenaikan harga.

Bisa dipahami. Naiknya kebutuhan hidup tidak ujug-ujug. Telor naik. Gas naik. BBM naik. Belom lagi biaya sekolah, biaya pengobatan. Semuanya serba mahal. Ribet. Susah.

Gegara nilai rupiah anjlok. Menembus angka Rp 15.000 per 1 $. Rupiah tak bernilai dimata perekonomian negeri ini. Dampaknya. Rakyat yang terhimpit. Akibat hidup serba sulit😫

Udah ganti aja sistem ekonominya. Buang dah jauh-jauh ekonomi kapitalis. Yang buat rakyat menangis. Bahkan hidup bak pengemis.

Dalam sistem ekonomi Islam, dengan mata uang dinar. Mata uang emas. Dirham, mata uang perak. Akan stabil. Konstan. Karena emas dan perak punya nilai intrinsik pada dirinya sendiri. Beda dengan uang kertas. Yang tak memiliki nilai intrinsik pada barangnya.

Dengan menggunakan mata uang emas dan perak. Suatu negara tidak akan seenaknya mencetak jumlah uang yang beredar. Jumlah uang yang dicetak ya berdasar cadangan emas dan perak dari suatu negara tersebut. Sehingga gak akan terjadi inflasi. Hebat ya.

 Berbeda dengan uang kertas. Bisa dicetak semaunya negara. Meskipun jumlahnya membludak. Ini salah satu penyebab inflasi sering terjadi. Sampaknya harga-harga ikut naik.

Udah deh, ganti aja ma dinar dan dirham😍

#Revowriter
#MiniRevoEkonomi
#SistemEkonomiIslam
#MengenalDinarDirham
#DinarDirhamTangguh
#CambukDiri12
#EmakJagoBisnis



Hebatnya Dinar 1 oleh : Nurul Sakinah Bayti

0




Hebatnya Dinar 1

Oleh : Sakinah Bayti

"Di Madinah ada tiga tenaga pengajar, yang mengajari anak-anak kecil. Khalifah Umar bin al-Khaththab memberi mereka upah masing-masing 15 dinar perbulan. "(HR. Ibn Abi Syaibah)

Seorang pengajar tingkat TPA atau bahkan tingkat PAUD/TK memperoleh gaji 15 dinar. Hebat ya.

Tahu gak teman 15 dinar itu berapa ribu sih? Atau bahkan berapa juta? Yuk sama-sama kita hitung. 1 dinar setara dengan 4,25 gram emas. Berarti 15 dinar= 15 x 4,25 gram = 63,75 gram emas. Wow dalam satu bulan dapat hampir 1 ons emas. Hebat kan.

Kalau dikonfersi dalam rupiah jadi berapa ya? Kalau misal sekarang harga emas murni per gram Rp 500.000,-. Tinggap dikalikan saja 63,75 gram x Rp 500.000,-=Rp 31.875.000,-. Wow hebat😍

Angka yang menurutku sangat fantastis hanya untuk gaji seorang guru anak-anak. Rp 31.875.000 per bulan. Bagaimana dengan guru sekolah dasar, sekolah menengah. Bahkan seorang dosen dan profesor. Pastinya akan lebih dihargai dalam sistem Khilafah.

Inilah hebatnya dinar ketika diterapkan oleh sistem Khilafah. Memberikan penghargaan yang sangat tinggi untuk sebuah ilmu. Apalagi kalau ilmunya lebih tinggi. Lebih bermanfaat lagi. Pastinya akan dihargai lebih besar.

Dinar adalah mata uang emas. Nilainya akan selalu tetap. Tidak akan berubah. Meskipun ratusan tahun. Terbukti saat masa Kekhilafahan Umar. Dengan menggunakan mata uang dinar. Nilai itu tetap tinggi sampai saat ini. Hebat kan mata uang dinar?

Ingat ya, ini hanya ada di sistem Khilafah. Makanya yuk sama-sama belajar Islam. Jangan sampai kebaikan Islam ditinggalkan. Ilmu Islam dikesampingkan. Padahal Islam itu mengatur semua aspek kehidupan. Termasuk dalam sistem ekonomi. Bahkan dalam hal mata uang pun diatur.

#Revowriter
#MiniRevoEkonomi
#SistemEkonomiIslam
#MengenalDinarDirhamf
#DinarDirhamTangguh
#CambukDiri11
#EmakJagoBisnis

Sabtu, 08 September 2018

Keunggulan Dinar-Dirham oleh : Ust. Shiddiq Al Jawi

0

Selasa, 17 Mei 2011


Keunggulan Dinar-Dirham

Pengantar

Ketika dunia menggunakan emas dan perak sebagai mata uang, tidak pernah terjadi sama sekali masalah-masalah moneter seperti inflasi, fluktuasi nilai tukar, dan anjloknya daya beli. Profesor Roy Jastram dari Berkeley University AS, dalam bukunya The Golden Constant, telah membuktikan sifat emas yang tahan inflasi. Menurut penelitiannya, harga emas terhadap beberapa komoditi dalam jangka waktu 400 tahun hingga tahun 1976 adalah konstan dan stabil. (Nurul Huda dkk, 2008: 104).

Masalah-masalah moneter itu justru terjadi setelah dunia melepaskan diri dari standar emas dan perak serta berpindah ke sistem uang kertas (fiat money), yaitu mata uang yang berlaku semata karena dekrit pemerintah, yang tidak ditopang oleh logam mulia seperti emas dan perak. Dalam sistem Bretton Woods yang berlaku sejak 1944, dolar masih dikaitkan dengan emas, yaitu uang $35 dolar AS dapat ditukar dengan 1 ons emas (31 gram). Namun, pada 15 Agustus 1971, karena faktor ekonomi, militer dan politik, Presiden AS Richard Nixon akhirnya menghentikan sistem Bretton Woods itu dan dolar tak boleh lagi ditukar dengan emas. (Hasan, 2005). Mulailah era nilai tukar mengambang global yang mengundang banyak masalah. Dolar semakin terjangkit penyakit inflasi. Pada tahun 1971 harga resmi emas adalah $38 dolar AS per ons. Namun, pada tahun 1979 harganya sudah melonjak jadi $450 dolar AS per ons (El-Diwany, 2003).

Masalah-masalah moneter seperti itu hanya dapat diatasi oleh mata uang emas dan perak saja. Mengapa? Sebab, emas dan perak mempunyai banyak keunggulan. Telaah ini bertujuan mengupas lebih dalam mengenai keunggulan-keunggulan sistem emas dan perak tersebut, sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya, Al-Amwâl fî Dawlah al-Khilâfah (2004), khususnya bab Fawâ’id Nizhâm adz-Dzahab wa al-Fidhdhah. (h. 224-dst).


Keunggulan Mata Uang Emas dan Perak

Syaikh Zallum menerangkan setidaknya terdapat 6 (enam) keunggulan mata uang emas dan perak sebagai berikut (h. 224-227).  

Pertama: emas dan perak adalah komoditi, sebagaimana komoditi lainnya, semisal unta, kambing, besi, atau tembaga. Untuk mengadakannya perlu ongkos eksplorasi dan produksi. Komoditi ini dapat diperjualbelikan apabila ia tidak digunakan sebagai uang. Jadi, emas dan perak termasuk uang komoditi/uang barang (commodity money). (Nasution, 2008: 241). 

Artinya, emas dan perak mempunyai nilai intrinsik (qîmah dzatiyah) pada dirinya sendiri. Beda dengan uang kertas yang tidak memiliki nilai intrinsik pada barangnya sendiri. (Thabib, 2003: 326).

Dengan menggunakan mata uang  emas dan perak, suatu negara tidak akan dapat mencetak mata uang sesukanya lalu mengedarkannya ke pasar. Ini berbeda dengan uang kertas; negara dapat saja mencetak uang kertas berapa pun ia mau, karena uang kertas tidak mempunyai nilai intrinsik pada dirinya sendiri. (Zallum, 2004: 224). Ilustrasinya, untuk mencetak lembaran uang satu dolar AS, biayanya 4 sen dolar. Dengan anggapan 1 dolar senilai Rp 10.000, maka nilai 4 sen dolar hanya Rp 400 (1 dolar=100 sen dolar). Kalau mau mencetak lembaran uang 100 dolar, biayanya juga masih sekitar 4 sen dolar itu. Inilah yang mengakibatkan The Fed (Bank Sentral AS) sangat leluasa mencetak dolar hampir unlimited sehingga menimbulkan inflasi permanen. (Hamidi, 2007: 37).

Namun, untuk mencetak uang senilai 1 dinar emas, diperlukan emas seberat 4,25 gram. Negara yang menggunakan standar dinar tidak bisa mencetak uang semaunya, kecuali dalam batas kuantitas emas yang dimilikinya. Uang yang beredar hanya bisa ditambah ketika negara menerima sejumlah emas baru dari pihak luar. Sebaliknya, uang yang beredar bisa berkurang kalau ada orang yang menukarkan sebagian uangnya dengan emas. (El-Diwany, 2003: 92). 

Kedua: sistem emas dan perak akan menjamin kestabilan moneter. Tidak seperti sistem uang kertas yang cenderung membawa instabilitas dunia karena penambahan uang kertas yang beredar secara tiba-tiba. (h. 226). Emas biasanya tidak mudah ditemukan dalam jumlah berlimpah. Dalam perkiraan terbaik, persediaan emas global dalam 300 tahun terakhir hanya bertambah rata-rata 2% pertahun. Tingkat pertumbuhan ini jauh di bawah pertumbuhan uang beredar berdasarkan perbankan modern yang menggunakan uang kertas. (El-Diwany, 2003: 93). Dalam setahun, seluruh industri tambang emas dunia hanya menghasilkan kira-kira 2000 ton emas, sangat jauh di bawah produksi baja di AS saja yang menghasilkan 10.500 ton perjamnya pada tahun 1995. (Hamidi, 2007: 109).  

Ketiga: sistem emas dan perak akan menciptakan keseimbangan neraca pembayaran antar-negara secara otomatis untuk mengoreksi ketekoran dalam pembayaran tanpa intervensi bank sentral. (Zallum, 2004: 226). Mekanisme ini disebut dengan automatic adjustment (penyesuaian otomatis) yang akan bekerja menyelesaikan ketekoran dalam perdagangan (trade imbalance) antar negara. (Hamidi, 2007: 137; Nurul Huda dkk, 2008: 103).  

Mekanismenya: jika suatu negara (misal negara A) impornya dari negara B lebih besar daripada ekspornya, maka akan makin banyak emas dan perak yang mengalir dari negara A itu ke negara B. Ini karena emas dan perak digunakan sebagai alat pembayaran. Kondisi ini akan  mengakibatkan harga-harga di dalam negara A turun, lalu menyebabkan harga-harga komoditi dalam negara A lebih murah daripada komoditi impor dari negara B, dan pada gilirannya akan mengurangi impor dari negara B. Sebaliknya, dalam sistem uang kertas, jika terjadi ketekoran semacam ini, negara A akan mencetak lebih banyak uang, sebab tak ada batasan untuk mencetaknya. Tindakan ini justru akan meningkatkan inflasi dan menurunkan daya beli pada uang di negara A. 

Dalam sistem emas dan perak, negara tidak mungkin mencetak uang lagi, selama uang yang beredar dapat ditukar dengan emas dan perak pada tingkat harga tertentu. Sebab, negara khawatir tidak akan mampu melayani penukaran tersebut. (Zallum, 2004: 226).   


Keempat: sistem emas dan perak mempunyai keunggulan yang sangat prima, yaitu berapapun kuantitasnya dalam satu negara, entah banyak atau sedikit, akan dapat mencukupi kebutuhan pasar dalam pertukaran mata uang. (Zallum, 2004: 227). Jika jumlah uang tetap, sementara barang dan jasa bertambah, uang yang ada akan mampu membeli barang dan jasa secara maksimal. Jika jumlah uang tetap, sedangkan barang dan jasa berkurang, uang yang ada hanya mengalami penurunan daya beli. Walhasil, berapa pun jumlah uang yang ada, cukup untuk membeli barang dan jasa di pasar, baik jumlah uang itu sedikit atau banyak. (Yusanto, 2001: 144).

Hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk sistem uang kertas. Jika negara mencetak semakin banyak uang kertas, daya beli uang itu akan turun dan terjadilah inflasi. Jelaslah, sistem emas dan perak akan menghapuskan inflasi. Sebaliknya, sistem uang kertas akan menyuburkan inflasi. (Zallum, 2004: 227). 
  
Kelima: sistem emas dan perak akan mempunyai kurs yang stabil antar negara. Ini karena mata uang masing-masing negara akan mengambil posisi tertentu terhadap emas atau perak. Dengan demikian, di seluruh dunia hakikatnya hanya terdapat satu mata uang, yaitu emas atau perak, meski mata uang yang beredar akan bermacam-macam di berbagai negara (Zallum, 2004: 227). 

Benar hanya ada satu mata uang, karena satu ons koin emas (31 gram) di AS tidak akan berbeda dengan satu ons koin emas di Jepang, Jerman, atau Prancis. Mungkin satu ons emas itu akan diberi nama yang berbeda-beda di masing-masing negara ini, apakah diberi nama 20.000 Yen (Jepang), 200 Deutschemark (Jerman), 10.000.000 Rupiah (Indonesia), atau 1000 Franc (Prancis). Namun, tidak akan ada biaya transaksi signifikan yang menggambarkan perbedaan kurs. Konsekuensinya, spekulasi mata uang asing (valas) tidak akan dapat lagi dilakukan dan perdagangan internasional pun akan makin bergairah, karena emas dan perak telah menghindarkan para eksportir/importir dari sumber ketidakpastian yang terbesar, yaitu kurs yang tidak tetap (fluktuatif) (El-Diwany, 2003:97).

Keenam: sistem emas dan perak akan memelihara kekayaan emas dan perak yang dimiliki oleh setiap negara. Jadi, emas dan perak tidak akan lari dari satu negeri ke negeri lain. Negara manapun tidak memerlukan pengawasan untuk menjaga emas dan peraknya. Mengapa? Sebab, emas dan perak itu tidak akan berpindah secara percuma atau ilegal. Emas dan perak tidak akan berpindah kecuali menjadi harga bagi barang atau jasa yang memang hal ini dibolehkan syariah (Zallum, 2004: 227; An-Nabhani, 2004:277). Contoh: untuk mengimpor bahan pangan, alat-alat berat, persenjataan, atau untuk membayar tenaga ahli dari berbagai bidang dari luar negeri yang diperlukan untuk membangun negara Khilafah. Dengan kata lain, tidak akan ada keuntungan investasi asing yang dapat diterjemahkan sebagai kerugian mata uang dalam negeri. (El-Diwany, 2003: 98).

Penutup

Itulah sekilas beberapa keunggulan mata uang emas dan perak yang diterangkan oleh Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya Al-Amwâl fî Dawlah al-Khilâfah (2004), dengan pengayaan dari berbagai referensi berharga lainnya. Dengan memahami berbagai keunggulan itu, kita tak perlu lagi meragukan kemampuan mata uang emas dan perak dalam mengatasi masalah-masalah moneter yang menyengsarakan umat selama ini.

Namun, kemampuan mata uang emas dan perak itu tak ada gunanya kalau hanya menjadi wacana kosong di negeri-negeri Dunia Islam yang masih rela tunduk pada hegemoni Barat pimpinan AS. Dengan patuh sebagai budak Barat, mereka memang masih bisa hidup sebagai “rumput”, tetapi bukan sebagai “pohon cemara”. Mereka memang tidak terhempas angin, cuma diinjak-injak dengan hina. Hanya negara Khilafah kiranya yang akan mampu mengemban tugas memuliakan umat dengan emas dan perak. Allahu Akbar! [KH. M. Shiddiq Al-Jawi]  

Senin, 03 September 2018

Idealisme Tak Direstu oleh Sakinah Bayti

0

Idealisme Tak Direstu
Oleh : Sakinah Bayti

Ada saat hidup punya idealisme. Namun tak selamanya terwujud. Karena hidup bukan apa yang kita mau. Namun apa yang kita terima. Iya, ada yang lebih berharga dari sekadar idealisme. Restu orangtua. Doa mujarab yang memupus idealisme. Terlebih kata kramat selalu tersemat. Ridho Alloh ridho orangtua. Murka Alloh murka orangtua. Sepenggal kisah hidup untuk diambil pelajaran.
* * * * *

Jadwal pengumuman CPNS yang lama kutunggu telah datang. Aku keluarkan motorku dari rumah. Ku starter menuju warnet. Jaraknya hanya setengah kilometer. Lima menit sampai lah di warnet terdekat.
"Mbak, mana komputer yang bisa dipakai?" Tanyaku kepada penjaga warnet. "Nomor dua mbak, sambil menunjuk ruangan komputer yang kosong." Langsung memegang mouse komputer, kucari website Departemen Kehutanan. Tempat dimana aku mengikuti ujian seleksi CPNS.
Mata mulai cermat melihat sekian banyak yang lolos. Kebetulan waktu itu yang dibutuhkan cukup banyak. Setiap formasi bidang ku cek secara teliti. Jangan sampai ada yang terlewat. Sampai pada formasi penyuluh kehutanan. Mata ini mulai berhenti. Jantungpun mulai bunyi. Deg, subhanalloh ternyata namaku muncul di formasi itu. Coba ku buka lebar-lebar mata ini khawatir salah melihat nama. Tertera namaku. Iya, itu benar namaku. Kucoba geser mouse untuk melihat lokasi penempatan. Tak sabar ingin melihat wilayah tugas ku. MasyaAlloh Nangro Aceh Darussalam. Subhanalloh, pikirku panjang penuh tanya dalam hati.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang dari warnet, batin ini bertanya-tanya. Aceh. Seingatku memang propinsi yang agamis. Sangat kental dengan suasana Islam. Terkenal serambi Mekah. Tapi batin ini tak tahu harus merasa bahagia atau sebaliknya. Lamunku langsung berpikir ke orang tua. Direstui gak ya?
Sesampai di rumah. Langsung kulihat atlas Indonesia. Kupastikan posisi Aceh di sebelah mana. MasyaAlloh paling ujung Barat Pulau Sumatera. Hampir berbatasan dan dekat dengan Malaysia. Perjalanan yang pasti lama dari kampung halamanku. Aku berada di Pulau Jawa, tepatnya Jawa Tengah bagian timur. Lebih dekat ke Jawa Timur sebenarnya. Sementara Aceh, ujung Barat pulau Sumatera. Gak kebayang deh jauhnya.
Kudekati Bapak yang sedang nonton tivi sore itu. "Pak alhamdulillah kulo ketampi PNS (Pak alhamdulillah saya keterima PNS)". "Penempatan nang ngendi? (Penempatan di mana?". Tanya Bapak dengan penasaran. "Tapi di tempatkan di Aceh Pak." Terdengar pelan suaraku. Serasa tak yakin Bapak merestui. "Coba tanyakan ke ibumu". Jawab Bapak tak memberikan keputusan boleh diambil atau tidak.
Kucari ibu di dapur. Sambil kuajak mendekat ke depan menghampiri Bapak yang sedang asik nonton tivi. Biar enak ngobrolnya. Sekalian tahu respon dan jawaban kedua orangtuaku. "Ono opo to nduk?" (Ada apa to nduk?)". Ibu membuka pertanyaan sambil penasaran. "Bu, alhamdulillah aku lolos seleksi CPNS. Tapi penempatanya sangat jauh. Di Aceh. "Sebenare ibu seneng nduk. Kamu bisa jadi pegawai. Tapi kok yo aduh men (tapi kok jauh amat). Ibumu ini wis tuwo nduk, nak butuh ngombe njaluk tulung sopo?" (Ibumu ini sudah tua nduk, kalau minta minum sama siapa?)." Tandas ibu menimpali infoku.
.
.
.
Kucoba yakinkan ibu agar merestui keinginanku. PNS ini impianku sejak lama. Jarang-jarang kesempatan ini datang lagi. Ketika sudah ditangan. Serasa sayang untuk melepas. Batinku menggerutu.  " Bu, paling di Aceh cuman dua tahun saja. Kan banyak teman-teman di pusat yang bisa bantu untuk segera pindah. Mereka pada punya jabatan di kantor pusat". Rayuku agar ibu merestui. "Waktu dua tahun itu gak sebentar loh nduk. Kalo ibumu sehat terus sih gpp. Lah nak ibumu sakit, siapa sing ngurusi. Mas-mas mu wis jauh-jauh semua. Mbakyu-mbakyumu juga jauh. Wis podo ikut bojone dewe-dewe (sudah ikut suaminya masing-masing). Mosok tego" Cegah ibu, seolah memang gak ridho aku jauh-jauh dari rumah.
.
.
.
Idealismeku sedang diuji. Cita-cita lama tertanam dalam benak, perlahan luntur. Berkali-kali ikut seleksi CPNS hanya kuikuti yang penempatan area Jawa saja. Gak berani ikut di Departemen, karena khawatir penempatanya jauh. Siap ditempatkan di seluruh Indonesia. Rasa penasaran akan keilmuanku yang menjadikanku ingin mencoba ikut seleksi CPNS di Departemen Kehutanan. Dan benar juga, nasibku sesuai prasangkaku.
.
.
Sedari awal ketika ingin mendaftarkan CPNS, sudah terpikirkan. Bagaimana kalau dapat penempatannya jauh. Pasti orangtua tak mengijinkan. Dan Alhamdulillah, Alloh tahu yang terbaik untukku.
Idealisme jadi pegawai sudah luntur saat tak mendaptkan restu ibuku. Kukubur dalam-dalam impian dan cita-citaku. Kucoba hibur rasa ini agar tak kecewa yang berlarut. Pegawai bukan satu-satunya jalan rezeki. Masih banyak jalan yang Alloh miliki. Rasanya tak perlu diri ini terlalu menyesali.
.
.
Alhamdulillah, tempaan saat ngaji membuatku terbiasa menghadapi ujian hidup. Masalah demi masalah pun terselesaikan seiring dewasanya pola pikirku. Beruntung, Alloh ketemukan aku dengan Islam ini. Bukan hanya sebagai Ad Dien namun juga peraturan hidup.
Sebagai orang lama yang ditempa dengan Islam. Ngaji dan dibina dengan Islam. Tak menyurutkan langkah saat diuji. Karena hari tak selamanya malam. Pasti waktu siang akan berganti. Ujian tak akan lama menghampiriku. Pasti akan berakhir. Dan kebahagiaan lah yang kudapat.
.
.
Benar saja. Setelah kandas impianku jadi pegawai. Kualihkan kemampuanku untuk berdagang. Iya menjadi wirausaha. Kutanamkan dalam pikiranku, bahwa aku harus menjadi pedagang yang sukses. Peroleh gaji melebihi jadi pegawai. Bahkan berkali-kali lipatnya jadi pegawai. Iya, inilah aku. Orang yang tak mau menyerah karena keadaan. Tak surut langkahku ketika kesandung satu ujian.
Seraya tetap bersandar padaNya. Tingkatkan kualitas taatku. Prinsipku jangan sampai duniaku mengalihkan akheratku. Duniaku ladang amal terbaik untuk akheratku. Dan ridhoku, ditangan orangtuaku. Tak mau aku mengecewakannya. Karena rezekiku sudah ditanggungNya. Dan berdagang adalah salah satu kuncinya.

#PR 001 NgajiLiterasi
#EJB_EmakJagoBisnis
#CambukDiri 008
#CantikkanDiriDenganInspirasi
#GerakanMedsosUntukBerdakwah