Minggu, 27 Mei 2018

Mendamba Mubaligh Pewaris Nabi

0

Mendamba Mubalig Pewaris Nabi

Nurul Sakinah Bayti, S.Hut  (Pembina Kajian Muslimah & Wirausaha)

Daftar 200 mubalig yang direkomendasikan oleh  Kemenag banyak mengundang pro kontra di masyarakat. Sekalipun demikian Kemenag tidak akan mencabut 200 nama mubalig, bahkan akan menambah lagi deretan mubalig-mubalig lainnya yang direkomendasikan.

TEMPO.COM, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan tidak akan mencabut daftar 200 nama mubalig yang dirilis Kementerian Agama beberapa waktu lalu. "Sifat rilis itu adalah dalam rangka kami menjaga, menjawab permintaan masyarakat. Masyarakat itu kan kami beri. Masa sesuatu yang mereka harapkan lalu kemudian kami cabut lagi, kan tidak pada tempatnya," kata Lukman di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa, 22 Mei 2018.

Kemenag Berpihak ke Siapa?

Bukan tanpa alasaan ketika masyarakat banyak yang kontra terkait pengumuman Kemenag tersebut. Karena selama ini Kemenag yang merupakan kementrian agama yang hadirnya untuk melindungi hak-hak rakyat. Penjagaan terhadap penyebaran Islam, sebagai agama mayoritas negeri ini lebih condong berpihak pada pemerintah. Ya, hanya mengikuti arahan dan permintaan pemerintah.

Sebelum ini  sempat ada kabar yang menghebohkan ketika pemetintah melalui  menteri agama mengumumkan akan menggunakan dana haji guna pembangunan infrastruktur. Dengan alasan agar dana tersebut lebih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Bahkan dana wakaf masjid pun sempat dilirik juga oleh pemerintah.

Ketika rilis hanya 200 mubalig yang layak untuk melakukan pengisian ceramah di 80.000 masjid seluruh indonesia. Berarti 1 mubalig mengisi 400 masjid ? Padahal agenda masjid sangat banyak. Untuk khutbah jumat saja setiap pekan sekali. Bagaimana mungkin 1 orang mengisi 400 masjid dalam waktu yang bersamaan?

Banyak yang mengkhawatirkan rilis yang dikelurkan Kemenag ini untuk mengkotak-kotak mubalig yang pro dan kontra penguasa. Karena ada juga beberapa mubalig yang secara pengakuan keilmuan keislaman bagus. Lebih dikenal masyarakat, namun tidak masuk dalam daftar 200 rilis mubalig. Sebut saja Ustd. Abdul Somad, Ustd. Habib Rizieq Shihab, dan Ust. Felix Siaw yang lebih akrab dan dekat dengan umat. Namun buktinya tak masuk dalam rilis 200 mubalig.

Meluruskan Peran Mubalig

Mubalig adalah orang yang menyampaikan syiar Islam. Mencerdaskan umat dengan ilmu dan pemahaman Islam. Sehingga umat semakin dekat dengan Alloh dan selalu mengambil solusi Islam dalam setiap hidupnya. Berikut peran mubalig yang seharusnya menjadi kriteria dan harus ada pada orang-orang terpilih yang seharusnya dirilis pemerintah, dalam hal ini Kemenag diantarnya :

Pertama, mubalig atau ulama sebagai pewaris nabi. Peran mubalig bukan hanya menguasai khasanah pemikiran Islam, baik yang ,menyangkut aqidah dan syariah. Namun juga bersama umat berupaya menerapkan, memperjuangkan risalah Alloh. Mubalig juga terlibat aktif dalam perjuangan untuk merubah realitas masyarakat yang rusak, yang bertentangan dengan warisan Nabi saw.”Sesungguhnya kedudukan seorang alim sama seperti kedudukan bulan diantara bintang–bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kedua, para mubalig atau ulama adalah pembimbing, pembina dan penjaga umat serta memberi petunjuk dan menerangi umat sehingga umat tertunjuki pada jalan yang benar. “Ulama adalah pelita dunia. Ulama adalah pelita alam “ (HR. Abu Daud, Nasa’I dan Baihaqi)

Ketiga, sumber ilmu. Mubalig adalah orang yang fakih dalam masalah halal haram. Ia adalah rujukan dan tempat menimba ilmu sekaligus guru yang bertugas membina umat agar selalu berjalan diatas tuntunanAlloh dan RosulNya.

Keempat, mengontrol penguasa. Peran dan fungsi ini hanya bisa berjalan jika ulama dan mubalig mampu memahami konstelasi politik global dan regional. Ia juga mampu menyingkap makar dagan permusuhan kaum kafir dalam memerangi Islam dan kaum muslim. Dengan kata lain, mubalig harus memiliki visi politis–ideologis, sehingga umat akan terjaga dari kebinasaan dan kehancuran. Rosululloh saw bersabda : “ Penghulu para syuhada adalah Hamzah, serta orang yang berdiri di hadapan seorang penguasa yang dzalim, lalu menasehatinya, kemudian ia terbunuh”.

Mubalig adalah figur sentral yang sangat berpengaruh terhadap kondisi masyarakat. Mereka memiliki andil besar apakah suatu masyarakat dalam kabaikan atau keburukan. Jika mereka menjalankan tugasnya dengan baik, niscaya umat menjadi baik. Jika mereka abai terhadap tugasnya, niscaya umat menjadi rusak.

Semua ini memerlukan kepekaan dan kesadaran politik yang tinggi. Disinilah pentingnya ulama dan mubalig untuk terus mengasah kepekaan dan kesadaran politiknya. Dengan kiprah politik ulama dan mubalig, rakyat akan terbina dengan baik serta akan memilki kesadaran Islam. Hingga mereka akan meraih kemuliaan di dunia dan akherat. Amin. Wallahu a’lam

Kamis, 24 Mei 2018

Sekulerisasi Masjid

0

Sekulerisasi Masjid
Nurul Sakinah Bayti, S.Hut. (Motivator)

Saatnya masjid menjadi sorotan. Padahal awalnya apapun kegiatan bisa dilakukan di masjid. Mulai dari obrolan seputar keluarga sampai masalah ke negara. Diskusi masalah ringan hingga masalah yang paling serius sekalipun. Semuanya tak masalah dilakukan di masjid.

Namun saat ini fungsi masjid dipolitisasi. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan meminta takmir masjid menjadi garda terdepan dalam membentengi tempat ibadah dari paham radikal maupun politik praktis. Tujuannya, agar masjid tidak menjadi tempat penyebaran ujaran kebencian, terutama menjelang tahun-tahun politik. (Sabtu, 28/04/2018)

Mengamputasi Islam

Banyak hal yang bisa dilakukan di masjid. Acara pengajian, pembinaan ummat dan diskusi keislaman. Diskusi seputar ibadah, problem hidup bahkan diskusi politik. Menjadi sah-sah saja.

Menganggap masjid sebagai tempat beredarnya paham radikalisme adalah fitnah. Bahkan menjadikan masjid hanya untuk urusan sholat, sama saja mengkerdilkan fungsi masjid. Menjadikan masjid untuk fungsi ibadah semata, adalah cara mengamputasi terhadap islam.

Tuduhan masjid menjadi tempat paham radikalisme serasa mengada-ada. Radikalisme ketika diidentikkan denga gerakan islam radikal atau islam garis keras, justru fitnah yang tanpa dasar. Karena radikalisme sering menjadi isu yang dimunculkan di tengah kita.

Ketika islam dianggap sebagai sumber radikalisme, sejatinya isu ini ingin menjauhkan islam dari kehidupan. Sehingga banyak orang merasa takut ketika belajar islam lebih serius. Ini bentuk penjajahan dalam islam. Yang dampaknya banyak ajaran-ajaran islam yang ditinggalkan ummat. Ummat hanya mengambil ajaran islam yang sifatnya ritual saja.

Menjadikan fungsi masjid sebatas sholat inilah yang dikehendaki. Ingin menjauhkan ummat dari fungsi masjid yang sesungguhnya. Ketika ummat sudah menjauh dari aktivitas-aktivitas masjid. Dampaknya ummat tidak lagi menjadikan islam sebagai pengatur hidup. Islam tinggal namanya saja. Sementara ajarannya semakin jauh dari kehidupan masyarakat.

Politisasi Masjid

Makna politik sesungguhnya adalah pengaturan urusan ummat baik di dalam negeri atau luar negeri berdasarkan hukum syariat. Politik yang mencakup semua aspek hidup. Tidak ada pembatasan.
Membicarakan hal politik dalam masjid menjadi hal biasa. Karena kebutuhan ummat semakin mendesak. Problem ummat semakin banyak. Dan semuanya membutuhkan solusi. Inilah yang dikatakan politik.

Politik adalah bagian dari islam. Dan islam tidak bisa dipisahkan dari politik. Ketika melarang ummat islam berpolitik, walhasil akan semakin menumpuk beban hidup yang dirasakan unmat.

Melarang ceramah politik di dalam masjid, adalah bentuk politisasi islam. Urusan politik merupakan urusan rakyat. Pembatasannya akan menyebabkan hilangnya fungsi  politik ummat. Bahkan semakin jauhnya solusi ummat
Menjauhkan ummat dari politik adalah bentuk pembodohan. Masalah pada ummat akan terselesaikan ketika ummat paham politik. Paham tanggungjawab negara dalam mengurusi urusan rakyatnya. Ketika ummat diam, maka negara menjadi lalai. Bahkan abai terhadap kepentingan rakyatnya.

Sekukerisasi di masjid sudah merambah. Menjadikan masjid sebagai tempat suci yang hanya mengatur hubungan dengan Pencipta adalah keliru. Masjid hanya dimanfaatkan untuk aktifiktas ibadah semata. Menghindari masjid dari berbicara politik, bentuk keberhasilan sekulerisme. Paham yang ingin memisahkan agama dari kehidupan. Menghilangkan peran agama dalam kehidupan. Sementara probem ummat disolusikan dengan selain islam.

Dalam islam agama dan politik ibarat saudara kembar. Imam Al ghozali berkata : " Agama adalah pondasi. Dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan runtuh. Dan segala sesuatu  yang tanpa penjaga niscaya akan hilang.

Sayangnya apa yang dipesankan oleh imam Al Ghozali saat ini tidak dilaksanakan. Problem umat semakin bertambah. Gambaran solusi jauh dari benak ummat. Umat semakin terpuruk pada kehancuran.
Sekulerisme inti masalahnya. Termasuk larangan membicarakan masalah politik di dalam masjid adalah dampak dari sekulerisasi masjid dalam kehidupan. Umat harus paham dan waspada.

Mengembalikan fungsi masjid sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rosululloh saw menjadi hal penting. Masjid menjadi pusat ibadah sekaligus pusat menyelesaikan masalah ummat. Bahkan di masa Rosul pun masjid menjadi tempat untuk menerima delegasi-delegasi negara lain. Masjid menjadi pusat pemerintahan. Dan masjid juga menjadi pusat kegiatan politik kenegaraan. Inilah fungsi masjid yang harus dikembalikan umat islam.

http://www.remajaislamhebat.com/2018/05/sekulerisasi-masjid.html#.Wwc1GyxfWsU.whatsapp

Rabu, 23 Mei 2018

Hutang Selangit Rakyat Terhimpit

0

Hutang Selangit Rakyat Terhimpit
Oleh Nurul Sakinah Bayti, S.Hut
Wirausaha & Member Developer Property Syariah



Sebagaimana dikutip Liputan6.com dari data APBN Kita, Jakarta, Kamis (17/5/2018), utang pemerintah Indonesia per April ini yang sebesar Rp 4.180,61 triliun, terdiri dari pinjaman Rp 773,47 triliun dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 3.407,14 trilyun.

Paradigma Hutang

Pernah mendengar hutang sebagai penyemangat hidup? Paradigma salah ini, rupanya banyak menjangkiti cara berpikir masyarakat. Bahkan sudah menjadi hal wajar dalam dunia perbisnisan. Ketika masyarakat membutuhkan dana instan, alhasil banyak lari mengambil solusi hutang. Ketika anak butuh sekolah, hutang menjadi jalan keluar bagi kebanyakan orang. Butuh modal tambahan, hutang pun menjadi cara "terbaik" bagi mereka yang ingin mengembangkan usahanya. Sehingga mereka mengganggap wajar ketika berhutang.

Lantas bagimana kalau paradigma ini juga menjangkiti negara? Ketika negara membangun ekonomi rakyatnya melalui hutang. Negara membangun sarana infrastruktur juga dari utang. Bahkan paradigma salah yang selalu digaungkan para penjaja ekonomi neoliberal ke negeri ini. Bahwa Indonesia tidak akan mampu membangun negeri, kalau tidak berhutang. Dan serasa ini diaminkan oleh para pejabat negara. Buktinya mereka bukannya mencari cara untuk segera menutup hutang tersebut, tapi malah memperbanyak hutang-hutang baru. Alhasil ya hutang akan diturunkan sampai ke anak cucu bahkan cicit.

Meluruskan Persepsi

Pilihan terhadap suatu perbuatan, ditentukan oleh persepsi/pemahaman seseorang. Ketika persepsinya benar, maka perbuatan yang dilakukan pun benar. Demikan pun sebaliknya, ketika persepsi yang dibangun salah, alhasil akan mengambil tindakan yang salah juga.
Termasuk dalam berhutang. Bagi individu, ketika berhutang dianggap sebagai penyemangat hidup. Dampaknya banyak orang yang mengambil hutang. Untuk menyemangati hidup dengan berhutang. Berhutang bukan karena terdesak kebutuhan. Namun serasa menjadi trend hidup masyarakat.
Berhutang memang boleh. Sebatas untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan yang mendesak. Bukan menjadi trend hidup. Bukan juga hutang yang mengandung riba. Karena hukum riba ini jelas keharamannya.

Sabda Rosululloh saw "Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani)"

Nah, bagaimana kalau yang berhutang negara. Cara berpikir benar, seharusnya dimiliki oleh penguasa. Jangan membangun amal, atas persepsi. Apalagi membuat kebijakan atas pijakan persepsi. Ketika mengatakan bahwa Indonesia tidak akan bisa membangun sarana dan infrastrukturnya kalau tidak berhutang. Ini adalah persepsi. Akan sangat keliru, ketika persepsi ini membuahkan kebijakan dengan memperbanyak hutang, bahkan berhutang untuk kebutuhan jangka panjang. Padahal hutangnya negara selalu "berbunga" dan jumlah hutangnya sampai ribuan trilyun, lantas berapa bunganya yang harus dibayar setiap bulan? Pasti angkanya sangat fantastis.

Modus Intervensi

No free lunch, tidak ada makan siang gratis. Semboyan ini serasa biasa dalam kehidupan demokrasi ini. Apalagi dalam hal bantuan (baca : hutang). Bahkan menumpuknya hutang sampai tidak terkendali, menjadi alat jitu bagi negara yang menghutangi untuk ikut campur dalam urusan dalam negeri. Iya, hutang bisa menjadi modus untuk intervensi bahkan modus penjajahan ekonomi suatu negara. Banyak kebijakan-kebijakan negara yang diambil karena intervensi. Kebijakan menaikkan pajak, dampak dari hutang negara. Kenaikan BBM, ini juga dampak dari utang. Dan kebijakan-kebijakan lainnya yang dibuat negara, semata untuk menggenjot APBN negara. Ketika negara ini kaya, kenapa harus berhutang? Ketika negera ini sumberdayanya melimpah, kenapa mau untuk hutang?

Dalam islam hutang tidak akan dilakukan ketika negara memiliki kekayaan alam yang melimpah. Negara akan mengatur masalah kepemilikan dan pengelolaan kepemilikan. Ada tiga macam  kepemilikan dalam Islam : kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara.

2Membiarkan individu untuk memiliki barang yang boleh dimiliki oleh individu secara syariat. Adapun kepemilikan umum, menjadi milik umum (milik rakyat) yang pengelolaanya dilakukan oleh negara. Sumberdaya alam yang menjadi milik umum, tidak boleh dikuasai oleh individu/kelompok, baik perusahaan swasta atau luar negeri. Kepemilikan negara, menjadi kewajiban negara untuk mengelolanya.

Hakekat hutang yang dilakukan oleh negara, rakyat pasti yang menanggungnya. Kalaupun alasan negara ketika berhutang untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, ini alasan semu. Alasan yang mengada-ada. Karena realitanya, rakyat malah menanggung beban hutang itu. Rakyat malah tambah terhimpit, akibat hutang yang selangit. Sebagai solusi atas permasalah hutang, kembali kepada sistem yang shohih yaitu sistem Islam. Sistem Islam yang mengatur masalah kepemilikan dan pengelolaanya. Sistem Islam yang akan membawa kebaikan dan kesejahteraan rakyat.

http://www.dapurpena.com/2018/05/hutang-selangit-rakyat-terhimpit.html

Jumat, 18 Mei 2018

True Jilbab 3#Jilbabku Naik Gunung

0

Jilbabku Naik Gunung


Naik gunung menjadi impian saya ketika dibangku SMU dulu. Seru, banyak tantangan dan asyik aja. Impian yang sekian lama terpendam, karena waktu SMU gak ada kegiatan ekstrakurikuler Pecinta Alam.

 Baru terwujud saat kuliah. Dan itupun ketika saya telah berjilbab. Iya berjilbab. Pakaian panjang, longgar, terulur dari atas sampai bawah. Tidak boleh membentuk tubuh, tidak boleh transparan dan tidak boleh pas bodi alias ketat. Jilbab ini kebanyakan orang memandang sebagai pakaian pengajian atau kondangan, lah kok digunakan untuk naik gunung? Bagaimana jadinya?

Dintara sekian banyak aktivitas praktek di kampus kehutanan IPB, yang paling menantang adalah ketika praktek P3H (Praktek Pengenalan & Pengelolaan Hutan). Waktunya bisa dibilang lama, hampir 45 hari, dan aktivitas prakteknya sangat padat, harus blusukan ke hutan.

Mulai dari ngukur diameter pohon, tinggi pohon, jenis pohon, segala macam tanaman semak, macam satwa dan masih banyak yang lainnya. Lelah sudah pasti, namun dinikmati saja. Paginya persiapan berangkat, sorenya baru pulang ke penginapan di rumah dinas Perhutani.

Praktek menantang pertama, ketika menuju medan hutan. Hutan milik Perhutani Tasikmalaya. Jalan berbatu, berkelok dan naik turun. Kendaraan pun harus menggunakan motor Trel, motor cowok dengan ban besar. Ujian bagi jilbabku, ketika naik ke motornya petugas.

Pakai jilbab? Iyalah, jelas. Karena jilbab menjadi identitas iman dan ketaatanku, disinilah Alloh mengujinya. Membonceng motor Trel dengan jilbab. Tak kurang akal, akhirnya untuk keamanan membonceng, ujung bawah jilbabku saya kaitkan dengan peniti, he. Biar ga jatuh jilbabnya, dan biar ga masuk ke rantai motor. Karena rantai motor Trel rata-rata terbuka, jadi membahayakan kalau ujung bawah jilbab masuk ke rantai. Pernah juga kena semprot teman-teman cowok, gara-gara ujung jilbab yang hampir masuk ke rantai. Sangking konsentrasi dengan medan yang sangat mengerikan. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa.

Ketika masuk hutan pun, ada beberapa pengalaman yang menantang. Karena semak-semaknya yang rimbun, untuk berjalan pun harus membabat beberapa tanaman semak. Butuh membuka jalan baru. Maklum, prakteknya kan di hutan, bukan di mall loh ya, he. Terlebih waktu itu bersamaan dengan musim hujan, licin sudah pasti. Berjalan sepanjang hutan, melakukan aktivitas analisis materi-materi kuliah. Belum lagi rasa takut kalau ada binatang buas, ular, kalajengking dan lintah. Benar-benar uji nyali. Bisa kebayang kan? Kalau belum kebayang, coba aja masuk hutan yang rimbun dan kondisi hujan, he.

Hutan mangrove dan hutan tepi pantai, tantangan lanjutan. Pakai jilbab, masuk ke hutan mangrove. Basah sudah pasti. Menurut saya yang rada menggelikan ketika jilbabnya masuk ke hutan mangrove. Akar pohon mangrove yang runcing-runcing dan berair, pasti jilbabnya naik-naik ke atas air, karena berat jenis kainnya lebih ringan. Jadi jilbabnya mengapung. Lumayan seru nih. Praktek analisis tanaman yang di mangrove, ngukur diameter pohon, sambil pegangin jilbab biar ga mengapung di air, he. Gimana caranya ya? Wis lah, pokoknya seru banget dan tantangan tersendiri buat jilbabku.

Nah ini termasuk saat yang saya impikan cukup lama yaitu pendakian gunung. Gunung Papandayan menjadi pilihan dalam praktek P3H. Gunung Papandayan memiliki dengan ketinggian 2.655 mdpl.

Namanya tidak asing lagi bagi yang mendengarnya, apalagi yang hobi naik gunung atau camping. Ya, gunung Merapi yang statusnya masih aktif ini menawarkan keindahan alam yang memukau dan sayang untuk dilewatkan. Salah satu hal yang menjadi daya Tarik Gunung Papadayan adalah terdapat beberapa kawah yang terkenal yaitu kawah mas, kawah baru, kawah nangklak, dan kawah manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap belerang dari dalamnya. Inilah praktek yang sangat menyenangkan, karena bisa belajar sekaligus refreshing, mengenal alam lebih dekat.

Sudah bisa dimaklumi, Garut terkenal dengan cuaca sangat dingin. Apalagi di saat pagi hari. Bahkan untuk mengambil air wudhu pun, harus mengalahkan rasa dingin. Melakukan sholat shubuh, setelahnya langsung persiapan pendakian.

Dengan diangkut pakai mobil Elp, rombongan pendakian mulai beraksi dari lokasi penginapan menuju kaki gunung. Perjalanan yang seru, naik-naik ke puncak gunung. Tinggi-tinggi sekali, he. Semakin tinggi, semakin sulit bagi jilbabku untuk ikutan naik. Butuh bantuan uluran tongkat teman, ketika naik di ketinggian. Biasanya teman cowok yang ulurkan tangan, cuman saya senyumin. Memilih teman cewek yang membantu, agar tidak ketinggalan rombongan. Teman cewek pun, memahami kondisi saya. Karena temen saya, memahami pilihan hidup saya dengan jilbab ini. Alhamdulillah tanpa mengeluh, teman cewek inilah yang jadi partner setia saya selama pendakian.

Kepleset, ketinggalan dengan rombongan, menjadi hal biasa. Bukan karena jilbabku, karena memang medanya yang berbatu dan licin. Sehingga pelan-pelan bagi kami untuk mendaki. Sesekali istirahat di tengah perjalanan, sambil menikmati indahnya pemandanagan sekaligus melakukan penelitian terhadap lingkungan Gunung dan sekitarnya. Kadang-kadang juga photo-photo untuk kenang-kenangan, biar bisa cerita ke anak cucu, he.

Dalam pendakian, ada rute lain yang bisa ditempuh dengan motor Trel. Tapi dosen pembimbingnya melarang mahasiswa untuk naik motor. Biar kalian merasakan pendakian, paparnya begitu pada kami. Ya seperti ini seharusnya mahasiswa, bersusah-susah untuk mendapatkan ilmu.
Sampai di Puncak Papandayan, aktifitas analisis materi praktek langsung kami lakukan secara berkelompok. Menghitung jenis pohon, mengukur diameter pohon, tinggi pohon dsb. Mencatat segala data yang dibutuhkan untuk pelaporan praktek.

 Berdiskusi dengan kelompok dan dosen pembimbing terkait dengan materi.
Yang seru, dosen pembimbing yang menyertai pendakian ada dua dosen. Satu masih muda, yang satunya lagi bisa dibilang sudah tua. Ini yang kadang saya kasihan pada Beliau. Pendakian yang tinggi, masih membawa kebutuhan pribadi untuk pendakian. Ditambah lagi tongkat kesayangan selalu melekat pada tangan Beliau. Namun saya acungkan jempol, Beliau tetap semangat untuk memberikan pengarahan dan motivasi pada kami. Kebetulan Beliau termasuk dosen mata kuliah tanah. Jadi seluk beluk tentang tanah, Beliau sangat hafal.

Menjelang sore, kegiatan pendakian siap-siap diakhiri. Kami pun menyegerakan untuk membereskan segala perlengkapan dan kebutuhan yang masih terserak. Mempercepat langkah agar segera sampai di kaki Gunung. Karena biasanya kami menjamak takhir sholat Ashar dengan sholat Dhuhur. Di gunung kan tidak ada air untuk berwudhu, jadi sholatnya dikerjakan kalau sudah sampai tempat penginapan.

Demikian juga untuk hari berikutnya kami melakukan pendakian kembali, melengkapi data-data yang kurang. Melanjutkan analisis  materi berikutnya.
Bersyukur, selalu bersyukur. Setiap tahapan praktek bisa tertunaikan. Jilbabku lolos dalam setiap ujian ketika praktek.

Jilbabku pengukur ketaatanku. Alhamdulillah, keyakinan kuat dalam diri ini, memberikan kemudahan dalam menjaga keistiqomahan berjilbab. Keyakinan akan Firman Allah yang artinya  bahwa Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuan hambaNYa (TQS. Al-Baqarah: 286). 

True Jilbab 2#Mudik,Tantangan Jilbabku

0

Mudik, Tantangan Jilbabku

Menjadi hal yang menyenangkan ketika mudik. Pulang kampung, berkumpul dengan keluarga, orangtua, kakak, keponakan dan kerabat lainnya. Saat yang dinanti-nanti setiap akhir tahun, di akhir ramadhan dan menjelang lebaran.

Meskipun antrian sangat panjang, berdesak-desakan untuk mendapatkan tiket kreta ekonomi yang super murah. Di tahun 2001 harga tiket cuman Rp 45.000,- sudah bisa pulang ke Jawa dari stasiun Jakarta Pasar Senen. Dibandingkan naik bus waktu itu sudah Rp 150.000,-, hampir 3x lipatnya kan, he. Maklum mahasiswa, dengan kondisi uang pas-pasan, bulanannya juga sedikit, sehingga nyari tiket mudik yang super ekonomi.

Ketika dalam kereta, mata para penumpang tertuju pada kami. Iya, waktu itu kami mudik bertiga ke kampung halaman di Kota Randublatung, Blora, Jawa Tengah. Pertanyaan yang disampaikan salah seorang penumpang, mbak mondok di mana? Jauh amat mondoknya, memang di Jawa Tengah gak ada pondokan? Hampir selalu dapat pertanyaan yang sama dari penumpang lain setiap naik kereka.

Pandangan awal mereka selalu tertuju pada jilbabku. Iya, pakaian yang menurut mereka identik dengan pakaian anak pondokan. Kadang hampir tidak percaya kalau kami menyampaikan, kita kuliah bu, kuliah di Institut Pesantren Bogor, he. Banyak memang yang mengatakan IPB seperti pesantren, julukan dari senior-senior kami juga. Ketika melihat di IPB marak mahasiswa yang aktif ikut pengajian dan banyak juga  pergerakan islam di kampus.

Rasa senang ingin berkumpul dengan keluarga ini, bercampur dengan rasa was-was. Pertama kali pulang dengan pakaian yang tidak biasa. Jilbab yang sudah kupilih sebagai pakaian taat dan penutup aurotku. Di kreta saja sudah ada ujian dengan pertanyaan-pertanyaan seputar jilbabku, bagaimana dengan orangtua dan tetanggaku? Sudahlah, ini kan pilihan hidupku. Jilbaku adalah syariatNya. Alloh pasti menolong urusan hambaNya. Bujuk hatiku agar merasa tenang.

Tantangan jilbabku selanjutnya terjadi lagi. Seperti biasa setiap keluar rumah, motor selalu menjadi angkutan andalan setiap bepergian. Melihat pakaian saya yang dobel-dobel, ibu mulai menegurku. "Nduk klambimu iku opo gak sumuk? (Nduk, bajumu itu apa gak panas ?) Nganggo klambi kok dobel-dobel? (Pakai baju kok dobel-dobel?)" Tanya ibu kepada saya. Ibu melanjutkan nasehatnya : "wislah, pakai wae baju yang biasa mbok pake, ben gak kecantol motor?(sudahlah, pakai saja baju yang biasa dipake (maksudnya celana), biar ga nyangkut di motor)".

Pertanyaan-pertanyaan ini sudah saya duga sebelumnya. Mbak yang ngajari kajian, juga sering berpesan, kalau nanti pulang ke rumah, akan banyak pertanyaan-pertanyaan dari orang tua. Jangan dibantah, sampaikan saja nasehat yang baik untuk orangtua. Bahwa jilbab ini adalah perintah Alloh, syariat untuk menutup aurot bagi muslimah. Butuh proses untuk orangtua saya menerima keputusan saya berjilbab. Karena baru awalan melihat anaknya kok berubah pakaiannya. Saya pun tidak lelah selalu meyakinkan jilbab ini adalah pakaian yang sesuai syariat.

Semakin bertambahnya waktu, semakin mantap diri ini menunaikan syariat berpakaian bagi seorang muslimah. Jilbab yang dalam pandangan saya syar'i dan trendy. Harus menjadi trend juga bagi muslimah lainnya. Bahkan bagi siapapun yang melihatnya.

Sempat suatu waktu silaturahmi di rumah dinas Ibu Camat di Kecamatan Randublatung. Memang waktu itu masih ada beberapa pegawai kecamatan yang ngantor. Ibu yang di kantor tersebut menemui kami, dan menanyakan ingin ketemu siapa mbak? Ada keperluan apa? 1
Maaf mbak, kalau mau minta sumbangan, maaf ya. Kemudian keluar seorang ibu pegawai kecamatan lainnya, yang kebetulan tetangga saya. Mbak mau kepanggih sinten? Bu Camat bu, jawab saya. Kemudia beliau menghantarkan kami ke rumah dinas ibu Camat. Alhamdulillah, batin saya. Untung ada yang dikenal, ternyata jilbabku mengundang persepsi seperti orang yang suka minta sumbangan, he. Sambil senyum-senyum sendiri.

Kamis, 17 Mei 2018

True Jilbab 1 # Ngaji Membangunkanku dari Mimpi

0

Ngaji, Membangunkanku dari Mimpi

Nurul Sakinah Bayti, S.Hut
(Motivator & Wirausaha)


Merasa sudah baik, itulah saya dulu. Merasa gak banyak neko-neko dan pintar, itulah saya dulu. Bahkan merasa diri sudah sangat layak untuk membeli surgaNya, itulah saya dulu. Iya, saya yang merasa sudah cukup dari lingkungan keluarga yang kondusif, paham agama, dan selalu dekat dengan aktivitas agama, sehingga punya rasa percaya diri kalau ibadah saya pasti diterima Alloh, Astaghfirulloh.

Serasa wajar bagi saya waktu itu, kebiasaan harian saya cukuplah kalau dikatakan anak sholihah, cie muji diri sendiri. Mulai bangun tidur, ikut sholat berjamaah di masjid, belajar selepas shubuh, sekolah, pulang sekolah pun langsung bantu-bantu ibu di rumah, ngaji sore, malam belajar lagi, sholat berjamaah lagi. Bahkan hampir bisa dikatakan gak pernah yang namanya dolan (bermain) apalagi jalan-jalan sama the geng, la wong geng nya anak-anak pendiam dan rumahan, he, ya hampir tidak pernah lah. Maklumlah memang dari SD hingga SMU dikenal anak pintar, kata temen-temen sih. Tapi bener kok, buktinya bapak/ibu Guru di sekolah sampai saat ini pun masih ingat dengan saya, si Pintar yang ikut mengahrumkan nama sekolah. Aduh sombong dan PD nya minta ampun. Iya, itulah saya dulu.

Dalam pergaulan dengan teman-teman pun, suka memilah-milah temen. Merasa sebagai seorang cewek, ya wajar kalau lebih suka bergaul dengan cewek. Bahkan tidak pernah mau duduk sebangku dengan cowok. Maklumlah, saya termasuk tipe pemalu. Bahkan ada beberapa temen cowok merasa jengkel dengan saya, gegara saya termasuk orang yang katanya teman-teman, orang pintar yang pelit, beuh, dalam tuh sebutannya. Bagi saya, memberikan jawaban ketika ujian/ulangan, pantangan bagi saya. Disamping saya punya pesaing yang banyak dan berat di kelas ataupun dari kelas lain, rugi dong kalau ngasih bocoran ma pesaing, he. Itulah saya, salah seorang siswa yang tidak mau kalah dalam prestasi dan juara kelas. Makanya banyak teman-teman yang sukanya minta jawaban, gak bakalan dapat bocoran jawaban dari saya. Sampai sekarang, ketika masih ketemu sama teman-teman pun mereka selalu bilang, kamu itu dulu pintar tapi pelit, he, inget banget ya mereka. Iya, itulah saya dulu.

Alhamdulillah berkat usaha dan doa, berkat predikat sebagai siswa berprestasi, mudah bagi saya untuk masuk perguruan tinggi negeri. Sebenarnya dulu kepinginnya masuk kedokteran, namun kandas niatannya karena orangtua gak PD dengan mahalnya biaya sekolah di kedokteran.

Kata bapak seperti itu : "wis lah nduk, disyukuri saja udah keterima di IPB, kasihan nanti adik-adik kelasmu, gak bisa diterima, karena kamu wis diterima PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) kok gak diambil. Karena dari awal pun, guru BP mewanti-wanti, kalau sudah keterima di PTN melalui jalur rapor, harus diambil. Kalau tidak diambil, soalnya nanti akan berpengaruh ke adik-adik kelas. Ini yang juga dinasehatkan Bapak kepada saya waktu itu. Kandas juga keinginan untuk ikut UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Padahal saya termasuk yang dapat beasiswa untuk mengikuti tes UMPTN secara gratis, ketika diterima pun, bisa kuliah dengan biaya gratis, bahkan mendapat biaya bulanan juga gratis. Iya, itulah saya dulu.

Alhamdulillah, Alloh Swt punya cara terbaik untuk menuntun saya pada hidayahNya. Perjalanan jauh untuk menuntut ilmu, ke Kota Hujan Bogor, bagi saya merupakan tantangan tersendiri. Wajar sebelumnya gak pernah kemana-mana. Eh, sekalinya sekolah malah ke luar kota. Jauh banget ke kota Bogor.

Perjalanan yang memakan waktu hampir sehari semalam. Dengan ditemani Bapak tercinta, diantarkanlah saya untuk mencari kos-kosan. Alangkah kagetnya saya ketika mendapati setiap rumah yang di koskan selalu tertutup pintunya.

 Aneh bagi saya. Karena di kampung, rumah yang ditutup biasanya tidak berpenghuni atau penghuninya sedang pergi. Lah, ini rumah-rumah yang di koskan hampir semuanya ditutup pintunya. Iya, saya memang diantarkan oleh kakak kelas yang aktif dalam organisasi BKIM (Badan Kerohanian Islam Mahasiswa). Jadi rumah yang dipilihkan, hampir semuanya rumah binaan istilahnya. Rumah yang dijadikan pembinaan untuk orang-orang yang ngekos, bukan hanya dapat ilmu ketika  kuliah, tapi juga dapat tambahan ilmu agama. Papar kakak kelas seperti itu.
Akhirnya masuk juga saya ke sarang harimau, he. Katanya kakak kelas yang lain ketika ngrumpi sesama wong jowo (rasa bangga loh, kalau ketemu sesuku bisa ngomong dengan bahasa yang sama, merasa gak sendirian lagi). Wejangan (nasehat) mereka, hati-hati loh dek, kalau masuk rumah binaan. Tambah berdegup nih jantung saya, ketika diomongin begitu. Memang kenapa mbak? Tanya saya balik. Trus dijawabnya, iya hati-hati saja, nanti kamu bakalan diminta pakai jubah kalau ke luar kosan. Banyak pengajian di kosan.

Wis lah, pokoke nanti akan banyak yang beda. Nak kuat yo gak apa-apa, tapi nak gak betah ke sini saja. Bagi saya yang merupakan orang baru, ini adalah bentuk perhatian beliau terhadap adik kelasnya. Tapi rada-rada takut juga sih. Sampe di bilangin masuk sarang harimau, ngeri juga, he.

Sebenarnya kalau kebiasaan pengajian, mengaji dan ibadah-ibadah keagamaan lainnya, bagi saya itu merupakan hal yang biasa. Yang tidak biasa adalah ketika diminta pakai jubah kalau ke luar kosan apalagi kalau kuliah. Langsung kepala ini membayangkan hal-hal yang aneh-aneh, muncul beberapa pertanyaan terhadap diri sendiri. Bagaimana mungkin ya, kalau jubah dipakai pengajian sih gak masalah.

Yang masalah adalah ketika jubah dipakai untuk kuliah. Padahal saya kuliahnya di Fakultas Kehutanan, lah bagaimana mungkin diminta pakai jubah ketika naik gunung. Pakai jubah ketika praktek ke hutan. Ah, lamunanku semakin kemana-mana. Dalam hati, wis lah diikuti saja dulu.  Selama kebaikan yang diajarkan, pasti ada jalan keluar.

Seminggu tinggal di Bogor, masih sering mewek,he. Anak mami katanya. Gak pernah keluar rumah yang jauh-jauh. Paling lama dulu keluar rumah, rekreasi di Bali. Itupun untuk senang-senang. Nah ketika di Bogor jauh dari siapa-siapa, apalagi teman yang sama-sama kuliah di IPB memilih untuk kos di rumah umum, bukan rumah binaan. Sementara saya memilih untuk tinggal di rumah binaan.

Adaptasi pasti lah, butuh waktu cukup lama. Hampir sebulanan baru bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Lingkungan yang kondusif sih menurut saya, karena saya dulunya pun suka dengan aktivitas keagamaan. Cuman satu tok yang saya gak suka, ketika pas pengajian disinggung-singgung tentang jubah.

Awalnya setiap jadwal pengajian, saya semangat banget, karena materinya motivasi, mengingatkan akan Akherat. Namun setelah itu, materinya udah nyinggung-nyinggung tentang pakaian. Kewajiban muslimah untuk menutup aurotnya dengan sempurna. Maklum kali ya, meskipun saya paham agama. Ternyata niatan saya menutup aurot hanya sebatas merasa nyaman, agar tidak digoda. Iya sebatas itu niatannya. Setelah sering ikut pengajian, kok ada sesuatu yang berbeda. Mbak-mbaknya kok menyebut jubah dengan sebutan jilbab.

Padahal awalnya saya menutup aurotnya dengan pakaian panjang dan celana panjang. Mendapatkan pemahaman jilbab identik dengan jubah, bagi saya sesuatu yang aneh banget.

Pengajian diadakan hampir seminggu sekali. Bahkan kadang lebih intensif lagi, soalnya ada tambahan kultum juga di kosan setiap selesai sholat Shubuh.

Mulailah kami-kami yang belum mengenakan jubah ditanyain terus, kapan dek mau hijrah untuk mengenakan pakaian muslimah yang sempurna? Bahkan sempat terpikir untuk nyari-nyari alasan agar tidak ikut pengajian, karena tugas kuliah lah. Karena ada kegiatan di kampus lah, he.

Suka ngeles-ngeles juga untuk menghindar.
Sampai pada satu keputusan bagi saya, untuk menanggalkan celana panjang, berganti memakai rok panjang. Pikir saya, rada mendinglah. Kalau rok kan sudah terbiasa, tapi kalau pakai jubah? Pikiran kembali lagi berandai-andai, saya kan kuliah di kehutanan, masak harus pakai jubah?

Tiba saatnya mbak di kosan, yang juga guru ngaji, meyakinkan saya. Dek, jilbab ini syariat Alloh loh. Ini bukan perintah mbak, tapi langsung perintahnya dari Alloh. Dalil Al Qur'an surat Al Ahzab (33) : 59 sudah jelas, dalil haditsnya pun juga jelas. Sambil diingatkan kembali terkait istilah jilbab yang ada dalam Al Qur'an yang artinya : “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (TQS. Al Ahzab (33) : 59).

Kemudian beliau melanjutkan dengan nasehat Rosululloh saw ketika memerintahkan muslimah untuk menutup aurot dengan kerudung dalam Qur'an surat An Nur (24): 31, para shohabiyah langsung menyabet korden-korden yang ada di rumahnya dan merobek kain sarung mereka, digunakan untuk menutup kepala mereka. Kisah bersegeranya para shohabah mendengar perintah Alloh swt. Ketika shohabah mendengar, mereka langsung melaksanakannya tanpa nanti dan tanpa alasan.

Mbak pengisi ngaji kembali menanyakan kepada saya, lantas apa yang menghalangi anti untuk berjilbab dek? Butuh waktu bagi saya untuk merenung dan meluruskan niat mbak. Sampai tiba waktunya saya berani menceritakan hambatan, pikiran-pikiran yang menghalangi saya untuk berjilbab waktu itu. Termasuk bagaimana ketika nanti saya pulang kampung dengan pakaian seperti ini? Saya ceritakan semua kepada mbak ngaji yang sabar membina saya.

Sampai akhirnya saya mengambil keputusan untuk berjilbab. Hampir satu tahun saya berproses untuk menutup aurot secara sempurna. Berpikir, pakai rok pun juga ribet. Pakai rok belum dikatakan memakai jilbab. Karena hakekat jilbab adalah pakain panjang, longgar yang menutup seluruh aurot perempuan mulai dari atas sampai bawah. Jilbab hanya satu uluran, semacam terowongan dan semacam lorong. Jilbab tidak membentuk tubuh. Jilbab harus longgar dan tidak transparan. Cara berpikir manusiawi saya waktu itu, daripada sama-sama ribet, pakai rok ribet, pakai jilbab juga ribet, mending memakai jilbab, he. Jilbab dalilnya jelas, sementara rok tidak ada dalilnya.

Jilbab inilah pakaian syar'I, yang diperintahkan dan ada dalinya, batin saya waktu itu. Setelah semakin matang pemahaman saya tentang islam, berubahlah saya yang dulu, bukan saya yang sekarang. Bertambahlah keyakinan saya, bahwa melakukan amal, tidak boleh karena orang. Apalagi meniru-niru yang tidak jelas syariatnya. Bahwa menyegerakan kebaikan jauh lebih penting, dan jangan menunda-nunda. Karena niatan baik harus disegerakan. Jangan-jangan niatan yang baik itu, besok sudah berubah lagi. Ini yang selalu saya ingat-ingat dari nasehat mbak pengisi kajian.

Ngaji menyadarkan saya akan hakekat diri. Bahwa diri ini adalah titipan Alloh SWT. Ketika diri ini dititipi kepintaran, itupun anugerah Alloh. Tak layak manusia sombong, apalagi membanggakan dirinya. Sepintar apapun manusia, dia tetap manusia yang lemah. Manusia yang tidak ada artinya ketika sudah mati. Sehingga kepintaran seharusnya dimanfaatkan untuk penghambaan diri pada Ilahi.

Kepintaran harus tunduk pada ayat-ayat Alloh. Bukan menjadikan diri pongah, tetapi justru menjadikan diri tambah bersyukur dan dekat dengan Alloh. Alhamdulillah, disinilah saya merubah cara pandang yang keliru waktu itu.

Ngaji menjadikan saya lebih paham tentang Islam. Bahwa ujian hidup manusia pasti akan selalu datang. Alloh menguji manusia, karena Alloh cinta pada hambaNya. Alloh uji manusia, untuk mengetahui seberapa besar tingkat iman kita pada Alloh. Malu rasanya ketika mendengar dan membaca kualitas iman para sahabat terdahulu. Bilal bin Robbah dan Sumayyah, harus menanggung penderitaan dan penyiksaaan dari orang-orang Quraisy karena iman mereka. Bahkan Bilal disiksa majikannya, dijemur diterik matahari, ditindih dadanya dengan batu. Tak sedikitpun memalingkan iman Beliau. Ahad, Ahad, Ahad. Perkataan ini yang terucap dari lisan Bilal untuk mempertahankan imannya. Tidak mau berpindah ke agama nenek moyang, meskipun penyiksaan selalu menimpanya.

Rasanya malu diri ini ketika melihat perjuangan para sahabat. Mereka orang-orang yang kuat imannya. Merek orang-orang yang rela mati untuk agamanya. Bagaimana dengan saya? Akhirnya pikiran ketika diri merasa layak menempati posisi Surga, serasa jauh untuk saya. Amalan saya, perjuangan saya, belumlah seberapanya dibandingkan para sahabat.

Semakin merasa rendah diri ini dihadapanNya. Membuat diri ini semakin mendekat dan taat padaNya. Mumpung nyawa masih di badan. Mumpung masih ada kesempatan.

 Terbangun diri ini dari mimpi, tersadarkan diri ini ketika mendengar Firman Alloh yang artinya : "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemlaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rosul dan orang-orang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Alloh?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu dekat. (TQS. Al Baqoroh (2): 214)

Selasa, 15 Mei 2018

0

Ramadhan Butuh Bekal

Oleh : Nurul Sakinah Bayti, S. Hut
Motivator dan Anggota Revowriter

Tak terasa tinggal menghitung hari. Tamu agung sebentar lagi datang. Tamu yang banyak dinanti-nanti. Marhaban yaa Ramadhan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sudah hadir kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah SWT mewajibkan di dalam bulan Ramadhan untuk berpuasa. Pada bulan Ramadhan Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu semua setan. Di dalam bulan Ramadhan Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaikan).” (HR. Nasa’i dan Baihaqi).

Sudahkah punya bekal banyak? Butuh waktu khusus untuk menyiapkannya. Butuh korbanan kesempatan. Menyempatkan dalam waktu luang.

Setahun tak terasa. Bahkan setahun rasanya hanya sebulan. Sebulan serasa sehari. Sehari pun serasa kedipan mata saja. Fajar pagi berangsur-angsur tenggelam. Hari berganti malam. Malam pun kembali berganti pagi lagi.

Ya, demikianlah waktu. Sehari-harinya tidak terasa. Bahkan usia pun semakin bertambah. Jatah semakin berkurang. Serasa amalan belum cukup sebagai bekal.

Agar tidak menyesal. Agar ramadhan penuh makna. Hari-harinya semakin berharga. Maka penting untuk menyiapkan bekal dalam menghadapinya. Apa saja bekal itu, diantaranya adalah :



1. Bekal Iman
Iman adalah pondasi dalam setiap ibadah. Tak kan bernilai aktivitas ketika tak ada iman. Dan ketika iman lemah, sulit bagi seseorang untuk tergerak dalam ibadah. Sehingga muncul rasa malas. Tak merasa berdosa ketika meninggalkan kewajiban. Tak merasa bersalah ketika menabrak aturan.

Demikian ketika ramadhan. Iman menjadi pondasi amal. Pondasi dalam memberikan motivasi. Memaksa diri agar memperbanyak amal. Dan amal itulah yang akan kita bawa saat menghadapNya.

Sebagaimana perintah puasa ramadhan. Hanya Alloh SWT wajibkan atas orang-orang yang beriman. Firman Alloh SWT : "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (TQS. Al Baqarah: 183)

2. Bekal Ilmu
Beriman harus dengan ilmu. Ilmu yang akan memuaskan akal sekaligus memuaskan hati. Karena ilmu ini yang akan menghantarkan benar atau tidaknya proses iman kita.

Ilmu tentang Islam sangat luas. Bahkan seandainya lautan jadi tinta. Pohon-pohon sebagai pena. Tak kan pernah habis untuk menuliskan ilmu Alloh. Karena luasnya ilmu Islam inilah, penting bagi kita untuk selalu mencarinya. Agar tak salah dalam ucapan dan perbuatan.

Alloh SWT meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu. Dalam Surat Mujadilah (5) ayat 11,“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Memasuki bulan Ramadhan pun, membutuhkan persiapan ilmu. Mencari ilmu agama hukumnya wajib. Terlebih kewajiban ini dijalankan di bulan Ramadhan. Maka Alloh lipatgandakan pahalanya sampai 70 kali lipat. Subhanalloh

Ilmu yang penting dipahami selama bulan Ramadhan tak cukup seputar amalan-amalan wajib dan sunnah selama bulan Ramadhan. Namun dibutuhkan juga memahami ilmu dalam mengawali dan mengakhiri Ramadhan. Banyak yang merasa cukup dengan mengikuti perhitungan kalender yang sudah ada. Atau berdasar pengumuman pemerintah saja.

Padahal dalam mengawali dan mengakhiri Ramadhan Rosululloh SAW berpesan agar menggunakan rukyatul hilal global (melihat pergantian bulan secara global, bukan lokal). Artinya ketika sudah ada yang melihat hilal (bulan baru), maka wajib atas seluruh penduduk dunia turut berpuasa.
Rosululloh SAW besabda : "Berpuasalah kamu karena melihat dia [hilal] dan berbukalah kamu karena melihat dia [hilal].” (HR Bukhari no 1776; Muslim no 1809; At-Tirmidzi no 624; An-Nasa`i no 2087).

Namun sayangnya penerapan hilal secara global ini, tidak diterapkan oleh negeri muslim. Sehingga terkadang masyarakat bingung ketika ada perbedaan dalam mengawali dan mengakhiri Ramadhan. Bahkan dalam satu negeri pun kadang ada perbedaan. Apalagi kalau disetiap rumah ada pemahaman yang berbeda. Awal dan akhir Ramadhan pun bisa tidak sama.

Belum adanya pemimpin yang satu menjadi penyebab terpecahbelahnya masyarakat. Sehingga masyarakat dunia butuh adanya kempemimpinan satu. Satu pemimpin untuk seluruh dunia. Yang menerapkan syariah Islam kafah. Sehingga perbedaan antar masyarakat tak kan terjadi lagi. Inilah pentingnya umat dalam memahami ilmu. Sekaligus memahami ajaran Islam.