Selasa, 14 Agustus 2018

Hukum Seputar Fidyah Puasa oleh Ust. M. Shiddiq Al Jawi

0

Hukum Seputar Fidyah Puasa /

Diasuh Oleh: Ust M Shiddiq Al Jawi

#Fiqh | Tanya: Ustadz, mohon dijelaskan tentang fidyah puasa, khususnya mengenai bentuk dan caranya. (Abu F, Tangerang).
Jawab: Fidyah puasa merupakan pengganti (badal) dari puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan, berupa memberi makan kepada orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. (Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al Fuqaha', hlm. 260).

/ Siapakah yang wajib mengeluarkan fidyah? /
Menurut Syeikh Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah dalam kitabnya Al Jami’ li Ahkam As Shiyam, mereka yang wajib membayar fidyah ada tiga golongan;

#Pertama, orang-orang yang tak mampu berpuasa, yaitu laki-laki atau perempuan yang sudah lanjut usia yang tak mampu lagi berpuasa, dan orang sakit yang tak mampu berpuasa yang tak dapat diharap kesembuhannya.
Dalilnya firman Allah SWT (yang artinya), ”Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (maka jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” (wa ‘alalladziina yuthiiquunahu fidyatun tha’aamu miskiin) (QS Al Baqarah [2] : 184).

Ibnu Abbas ra menafsirkan ayat tersebut dengan berkata, ”Ayat tersebut tidaklah mansukh (dihapus hukumnya), tetapi yang dimaksud adalah laki-laki lanjut usia (al syaikh al kabiir) dan perempuan lanjut usia (al mar'ah al kabirah) yang tak mampu lagi berpuasa, maka keduanya memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.” (HR Bukhari, Abu Dawud, Nasa`i, Daruquthni).

Disamakan hukumnya dengan orang lanjut usia tersebut, orang sakit yang tak mampu berpuasa yang tak dapat diharap kesembuhannya. (Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shiyam, hlm. 202 & 206).

#Kedua, orang yang mati dalam keadaan mempunyai utang puasa yang wajib di-qadha`. Dalam hal ini hukumnya boleh, tidak wajib, bagi wali (keluarga) orang yang mati tersebut untuk membayar fidyah.
Pihak wali (keluarga) dari orang mati tersebut boleh memilih antara meng-qadha` puasa atau memilih membayar fidyah dari puasa yang ditinggalkan oleh orang mati tersebut.

Pendapat bolehnya membayar fidyah bagi orang yang mati, merupakan pendapat beberapa sahabat Nabi SAW, yaitu Umar bin Khaththab, Ibnu ‘Umar, dan Ibnu Abbas, radhiyallahu ‘anhum. (Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shiyam, hlm. 207).

#Ketiga, suami yang menggauli istrinya pada siang hari Ramadhan dengan sengaja dan tak mampu membayar kaffarah berupa puasa dua bulan berturut-turut. Suami ini wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan 60 (enam puluh) orang miskin. (HR Bukhari no 6164; Muslim no 2559). (Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shiyam, hlm. 207).

Adapun bagi perempuan hamil dan menyusui, juga orang yang menunda qadha' puasa hingga masuk Ramadhan berikutnya, menurut pendapat yang rajih, tak ada kewajiban fidyah atas mereka. Mereka hanya diwajibkan meng-qadha' puasanya. (Mushannaf Abdur Razaq, no 7564, Mahmud Abdul Latif Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shiyam, hlm. 210, Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 872, Yusuf Qaradhawi, Fiqhush Shiyam, hlm. 64).

/ Cara Membayar Fidyah /

Cara membayar fidyah dengan memberi bahan makanan pokok (ghaalibu quut al balad) kepada satu orang miskin sebanyak satu mud untuk satu hari tidak berpuasa. Jika tak berpuasa sehari, fidyahnya satu mud. Jika dua hari, fidyahnya dua mud, dan seterusnya.

Mud adalah ukuran takaran (bukan berat) yang setara dengan takaran 544 gram gandum (al qamhu). Untuk Indonesia, fidyah dikeluarkan dalam bentuk beras. (Abdul Qadim Zallum, Al Amwal fi Daulah Al Khilafah, hlm. 62, Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/687).
Menurut ulama Hanafiyah, boleh fidyah dibayarkan dengan nilainya (qiimatuhu), yaitu dalam bentuk uang yang senilai. Sedang menurut ulama jumhur (Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah), tidak boleh dibayar dengan nilainya. (Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/687).

Kami cenderung kepada pendapat jumhur, sebab secara jelas nash QS Al Baqarah: 184 menyebutkan pembayaran fidyah adalah dalam bentuk makanan (tha’aam), sesuai firman Allah, “fidyatun tha’aamu miskin.” Selain itu membayar fidyah dalam bentuk makanan adalah apa yang diamalkan oleh para sahabat Nabi SAW, seperti Ibnu Abbas dan Anas bin Malik RA. (Imam Syirazi, Al Muhadzdzab, 1/178). Wallahu a’lam.[]

Rabu, 08 Agustus 2018

Isuk Dele Sore Tempe

0

Isuk Dele Sore Tempe
Nurul Sakinah Bayti, S.Hut. (Wirausaha & Member Developer Property Syariah)

Aneh bin ajaib mendera negeri mayoritas muslim ini. Negeri yang Alloh karuniai sumber daya alam yang melimpah. Dengan jumlah penduduk yang besar, hampir 200 juta lebih. Namun tak nampak rasa syukur yang muncul dari lisan bangsa ini. Justru kecurigaan muncul dari kalangan sesama muslim sendiri. Menganggap masjid sebagai biang penyebar radikalisme. Sungguh aneh.

Jakarta - Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) menyesalkan temuan Rumah Kebangsaan dan Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Survei lembaga itu, mengungkapkan ada 41 masjid di lingkungan kantor kementerian, lembaga negara dan BUMN digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan radikalisme dalam khotbah jumat. Liputan 6.com.

Dalang Sekukerisme

Cara berpikir sekulerisme, memisahakan peran agama dalam mengatur kehidupan telah menjadi penyakit negeri muslim ini. Umat Islam justru alergi dengan aturan Islam. Saat menjalankan sholat tunduk diatur dengan Islam. Namun diluar sholat, meninggalkan aturan Islam. Ketika menikah menggunakan hukum Islam. Namun setelah menikah enggan berhukum dengan Islam.

Seolah Islam dipandang sebagai aturan yang berhubungan dengan urusan ibadah semata. Sementara dalam urusan pendidikan, ekonomi dan pemerintahan tak sedikitpun Islam digunakan. Dalam berakhlak menggunakan Islam. Namun masih menjamur juga praktek korupsi. Penjualan aset rakyat ke asing. Mengaku berpihak pada rakyat, malah mencekik rakyat. Kenaikan harga BBM buktinya. Langkah dzolim yang dilakukan penguasa dan telah mengkhianati janjinya terhadap rakyat.

Banyak yang harus dikoreksi dalam kehidupan bangsa ini. Muncul ungkapan atas kecurigaan terhadap masjid. Masjid dituduh menyampikan pesan radikalisme. Mengapa terjadi? Sesungguhnya arah pernyataan itu ke mana? Apakah ingin mengkerdilkan fungsi dan peran masjid ? Atau jangan-jangan ada kepentingan "politik" yang tersembunyi di balik ungkapan tersebut.

Waspada Tahun Politik

Di tahun politik ini, apapun akan dimanfaatkan bagi yang berkepentingan. Akan membuat pernyataan-pernyataan yang dinggap mampu menaikkan pamor. Menaikkan dukungan terhadapnya. Terlebih kalau sudah berkaitan dengan kepentingan "parpol" akan dilakukan segala cara, sekalipun menyakiti hati rakyat. Bahkan melukai perasaan umat Islam sendiri.

Bak pepatah jawa, isuk dele sore tempe (paginya kedelai, sorenya menjadi tempe). Perubahan sikap secara mendadak karena ada kepentingan. Awalnya membela Islam. Eh, sorenya berbalik arah berkoalisi dengan penista agama Islam.
Tak ada kawan yang abadi. Yang ada adalah kepentingan yang abadi. Politik sudah tercemari dengan kepentingan duniawi semata. Seolah menjadi hal biasa orang menjadi munafik. Bermuka dua. Na'dzubillah.

Berharap kebaikan dalam sistem yang sudah rusak, ibarat bermimpi di siang bolong. Tak akan pernah berpadu kebaikan dengan kebatilan. Tak bisa bercampur minyak dengan air. Hitam dan putih sangatlah jelas.


Sistem Islam yang diturunkan dari Robb, Pencipta Semesta Alam. Al Kholiq, Al mudabbir. Yang dengan diterapkannya akan sejahteralah rakyatnya. Akan makmur & tentram hidupnya. Sebagaimana gambaran penerapan sistem Islam yang telah dilakukan oleh Rosululloh Saw di Madinah. Niscaya sistem ini akan tegak kembali atas ijinNya. Insyalloh.

Medsos : Surgaku atau Nerakaku

0

Medsos : Surgaku atau Nerakaku
Nurul Sakinah Bayti, S.Hut. (Member Developer Property Syariah)

Media sosial (Medsos) seolah menjadi dunia baru era now. Hampir semua kalangan menjadi penggunanya. Tua muda. Petani pengusaha. Rakyat jelata hingga pengusa pun turut asik menjadi bagian dari kehidupan medsos ini.
Bisa berteman dengan banyak orang. Kenal secara langsung, bahkan tak kenal pun bisa berteman. Mulai teman sekolah, teman sedaerah sampai lintas negara pun pertemanan bisa dilakukan. Bagi pengguna facebook misalanya, pertemanan bisa mencapai angka 5000 orang. Beda halnya dengan pengguna twitter, pertemanan jauh lebih banyak bisa puluhan ribu hingga jutaan. Ini yang menjadikan medsos digandrungi semua kalangan.

Kepentingan penggunaan medsos pun banyak variasi. Sekedar untuk komunikasi, silaturahmi, bisnis, hingga strategi pencitraan menggaet masa sasaran. Masih terlintas dalam benak, pencitraan saat musim kampanye 2014. Seseorang kepala daerah di kota Solo yang awalnya tidak tenar di telinga, seolah disulap menjadi terkenal melalui mobil esemka. Berbagai kebijakan lokal diunggulkan . Merakyat. Blusukan ke daerah terpencil. Citra ini pun melambung sampai menaikkan popularitasnya dan menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Nyata atau tidak kondisinya. Dusta atau benar omonganya. Akan terasa sulit dibuktikan dalam dunia medsos ini. Tak jarang banya orang yang memanfaatkan medsos ini untuk kepentinga-kepentingan sepihak. Untuk menaikkan pamor hingga gaya hidup glamour. Ini yang disebut pisau bermata dua. Bisa dimanfaatkan untuk kebaikan sekaligus bisa untuk keburukan. Ketika tak pandai mensikapi, justru akan semakin menjerumuskan.

Tingginya angka kejahatan, pemerkosaan, penculikan bahkan pembunuhan pun bisa bermula dari medsos. Ketika tak ada aturan yang membatasi dunia medsos, orang dengan mudah mengunggah semaunya. Bahkan tayangan porno pun akan mudah diakses. Ini yang menjadikan birahi orang-orang yang imannya tipis akan naik. Walhasil, berlanjut kencan, hingga perkosaan. Tak mau aib tersebar, hingga tega melakukan pembunuhan. Astaghfirulloh.

Beramal dengan Ikhkas dan Benar

Dunia dan segala gemerlapnya adalah ujian. Keindahan dunia hanya indah dipandang mata. Harta, pangkat dan jabatan hanyalah titipan. Tak pantas ketika diri menjadi jumawa. Pamer kekayaan. Pamer kemesraan. Pamer ketenaran. Seolah haus sanjungan hingga pujian orang lain.

Alloh Maha Indah. Alloh Maha Baik. Hanya akan menerima amal manusia yang baik-baik. Baiknya amal tergantung pada Alloh. Dan buruknya amalpun ditentukan oleh Alloh. Disinilah Islam memberikan kriteria amal seseorang apakah dianggap baik atau sebaliknya.

Kriteria amal yang dikatakan baik menurut Alloh pertama adalah niat ikhlas. Ketika manusia saja tak mau diduakan dengan yang lain. Tak ingin dibandingkan. Apalagi Alloh yang telah menciptakan hidup dan manusia. Alloh hanya menginginkan seorang hamba beramal untukNya. Berniat bukan karena Alloh, berarti telah membandingkan Alloh dengan makhlukNya. Perbuatan ini yang dibenci oleh Alloh.

Rasulullah saw bersabda, “Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatau yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al masih Ad Dajjal? Para sahabat berkata, “Tentu saja”. Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika sesorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya“ (H.R Ahmad dalam Musnad-nya. Dihasankan oleh Al Albani Shahiihul Jami’ no.2604)

Kriteria kedua adalah caranya benar. Benar menurut tuntunan Alloh. Mengikuti teladan Rosulloh saw. Rosul adalah teladan terbaik yang telah Alloh pilih. Setiap perbuatannya, perkataannya bahkan diamnya adalah teladan. Inilah yang dikatakan sunnah/hadits
Sekalipun dunia medsos bisa menipu. Bahkan bisa dipoles sedemikian rupa untuk popularitas. Namun manusia tak bisa menipu Alloh.

 Pertanggungjawaban hamba dihadapan Alloh terus berlangsung. Siapa yang menanam pasti akan menuai. Ketika hasil tanaman di dunia baik dan benar, maka tempat terbaik yang akan Alloh berikan, yaitu Surga. Demikian sebalikanya, ketika yang ditanam keburukan maka akan peroleh tempat kembali yang buruk yaitu Neraka.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersikaplah yang lurus dan tetaplah dalam kebenaran. Dan ketahuilah, bahwasanya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat karena amal perbuatannya”. Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau, wahai Rasûlullâh?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk aku, hanya saja Allâh meliputi diriku dengan rahmat dan karunia-Nya.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Ath-Thabrani dll).

Minggu, 24 Juni 2018

Lakon Menungso

0

Lakon Menungso
* Nurul Sakinah Bayti, S.Hut.



Lakon menungso nang dunyo rupo-rupo.
Ono sing koyo janoko ugo dursasono.
Tindak tanduke ugo warni rupo.
Sing bener sering disio-sio.
Sing salah malah dibelo amargo konco.

Lakon dunyo ono sing kuoso.
Aji mumpung kadang digdoyo.
Kanggo njegal wong sing ga ditrisno.
Ora pandang mudo lan tuwo.
Ora pandang alhi ilmu lan ahli agomo.
Kabeh kenek tendang amargo bedo.

Lakon dunyo ngeri lan kudu waspodo.
Sing wis ngati-ngati sering dianggep mbalelo.
Opo maneh tumprap penguoso.
Ga enek benere terus-terusan dianggep olo.
Padahal cetho welo-welo.
Wis lah, becik ketitik olo ketoro.

Lakon dunyo mung sakwetoro.
Mongko elingo poro menungso.
Nak wayahe numpak bendhoso.
Rodane rupo menungso.
Ora ono sing gelem nderekno.
Bondo, kuoso, lan keluarga kabeh ditinggalno.

Mulo ndang tobato.
Ojo nganti kedisikan malaikat sing njabut nyowo.
Elingo marang Pengeran Sing Kuoso.
Njaluk ngapuro sekabehe duso.
Duso sing disengojo lan gak disengojo.
Mugo-mugo Gusti Alloh paring dalan padang lan jembar segoro.
Mugo-mugo Gusti Alloh ijabah kabeh dungo iro.

Randublatung, 24 Juni 2018

Kamis, 07 Juni 2018

Nasehat untuk Penguasa

0

Nasehat untuk Penguasa

Nurul Sakinah Bayti, S. Hut. (Pembina Kajian Muslimah & Wirausaha)

Semarang - Jabatan Prof Suteki di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mulai hari ini dinonaktifkan sementara sesuai SK Rektor No. 223/UN7.P/KP/2018. Hal itu terkait dijalaninya pemeriksaan disiplin yang digelar karena dugaan anti-NKRI.

Humas Undip Semarang, Nuswantoro mengatakan hari ini Prof. Suteki menjalani sidang disiplin. Sesuai dengan peraturan ASN, maka yang bersangkutan dibebastugaskan dari jabatannya. "Ini bukan sanksi yang dijatuhkan, tetapi prosedur yang harus, selama yang bersangkutan masuk dalam persidangan disiplin ASN," kata Nuswantoro, Rabu (6/6/2018).https://m.detik.com

Anti NKRI Muncul Kembali

Sebutan anti NKRI muncul kembali setelah Guru Besar dari Fakultas Hukum Undip menjadi saksi ahli dalam sidang gugatan HTI di PTUN Jakarta beberapa bulan kemarin. Menurut Prof. Suteki berdasar kepakaran ilmunya di bidang Pancasila yang diampunya selama 24 tahun.

Mengatakan bahwa Khilafah yang diajarkah oleh HTI tidak bertentangan dengan Pancasila. Karena sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa. Dan Khilafah adalah ajaran Islam. Islam adalah agama yang dijamin oleh sila pertama Pancasila.
Bukan hanya kali ini saja. Rupanya penyematan anti NKRI ini pun dari dahulu kerap terjadi terhadap seseorang berlainan pendapat dengan rezim. Demikian juga anti Pancasila pun dilekatkan pada orang yang berseberangan dengan penguasa.

Tercatat nama Prof. Buya Hamka, kejadiannya sekitar 1959, yakni ketika rezim Sukarno mengeluarkan peraturan pemerintah yang melarang pegawai negeri aktif sebagai anggota partai politik. Sebagai pegawai tinggi Kementerian Agama golongan F, Buya Hamka akhirnya memilih mengundurkan diri. Ia memilih berkhidmat kepada umat melalui perjuangan bersama Partai Masyumi.

Ketika sikap kritis dibungkam dengan pilihan berat. Tetap menjadi pegawai atau menjadi menjadi anggota parpol. Buya Hamka pun memilih keluar menjadi pegawai, dan berjuang bersama umat.

Saat ini terulang kembali di rezim penguasa ini. Sikap kritis seorang tokoh, justru berbuah tuduhan balik sebagai anti NKRI dan anti Pancasila. Lantas bagaimana yang disebut pancasilais dan cinta NKRI? Ternyata yang boleh menafsirkan makna tersebut adalah rezim penguasa. Jika bebeda dengan tafsir rezim maka akan disebut dengan anti NKRI dan anti Pancasila.

Nasehat adalah Kewajiban

Saat kasus korupsi merajalela, Islam hadir memberikan solusi. Kenaikan BBM yang terus-terusan, Islam selalu memberi jawaban. Bahkan ketika negeri ini pun dalam ancaman perpecahan dan disintegrasi, Islam hadir untuk menyatukan. Alih-alih solusi yang ditawarkan Islam diambil. Justru tokoh Islam dan ajaran Islam yang kriminalisasi.

Penguasa bukan malaikat. Apalagi wakil Tuhan. Penguasa juga manusia yang berpeluang melakukan kesalahan. Saat kesalahan dilakukan dan menyangkut kebijakan banyak orang. Disinilah peran rakyat untuk mengoreksi. Meluruskan kesalahan seorang penguasa.

Dalam sistem Islam, tidak ada penguasa yang anti kritik. Bahkan ketika Umar bin Khoththob diangkat sebagai Kholifah dan menetapkan pembatasan mahar kepada seorang wanita yang hendak menikah. Dengan besaran jumlah mahar tertentu. Hadirlah seorang muslimah yang memprotes kebijakan Kholifah Umar. Menuntut agar Sang Kholifah mencabut kebijakan penetapan mahar untuk wanita yang akan menikah. Lantas Umar pun meminta maaf karena telah khilaf menetapkan pembatasan mahar tersebut.

Rosululloh Saw pun bepesan : “Sebaik-baik jihad ialah berkata yang benar di hadapan penguasa yang zalim atau pemimpin yang zalim.” (HR. Abu Dawub, Tirmidzi dan Ibnu Majah). Nasehat untuk penguasa adalah wajib. Bahkan Rosul Saw menyebut dengan jihad yang paling utama.

Inilah indahnya Islam ketika diterapkan. Kekuasaan bukan untuk sewenang-wenang. Karena setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban. Termasuk seorang penguasa pun tak akan lepas dari pertanggungjawaban di pengadilan akherat.

Berharap ada sosok pemimpin Islam dalam sistem Islam yang akan mengurusi urusan rakyat. Pemimpin yang berperan sebagai junnah (perisai). Sabda Rosul Saw : ”Sesungguhnya al-Imâm (khalifah) itu adalah perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dll)


Rabu, 06 Juni 2018

Malam Kemuliaan, Malam 1000 Bulan

0

Malam Kemuliaan, Malam 1000 Bulan

Nurul Sakinah Bayti, S.Hut (Pembina Kajian Muslimah & Wirausaha)

Alhamdulillah Allah pertemukan kita sampai Ramadhan ke-21. Berharap sampai tuntas Ramadhan tahun ini. Bukan hanya menahan lapar dan haus saja. Namun bisa meningkatkan kualitas amal dan ibadah dibandingkan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Sehingga peroleh gelar muttaqin, sebagai hamba yang bertakwa. Sebagaimana tujuan dari puasa Ramadhan la'allakum tattaqun.

Masih ada waktu 10 hari untuk peningkatan amal dan ibadah. Dalam 10 hari terakhir ini terdapat keistimewaan dengan hadirnya malam yang lebih baik dari 1000 bulan, biasa yang kita kenal dengan malam lailatul qadar. Apa itu malam lailatul qadar, kapan turunnya malam itu dan apa tanda-tanda lailatul qadar ? Berikut pembahasannya yang kami rangkum dari beberapa sumber :

Apa Malam Lailatul Qadar ?

Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan. Yaitu satu malam yang penuh dengan kemuliaan, keagungan dan tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala, karena malam itu merupakan permulaan diturunkannya al-Quran. (Lihat al-Quran dan terjemahnya, cetakan Mujamma’ Malik Fahd).

 Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah Ta’ala yang artinya : “(1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. (2) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. (5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadr: 1-5).

Allah berfirman : “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi…” (QS. Ad-Dukhaan: 3). Imam Ibnu Katsir rahimahullah (774 H) berkata, “(Malam yang diberkahi) itulah Lailatul Qadr, (yang terjadi) pada bulan Ramadhan.

Kapan Turunnya Malam Lailatul Qadar?

Dari Aisyah radhiallahu’anha, Rasulullah Saw bersabda: “Carilah oleh kalian keutamaan lailatul qadar (malam kemuliaan) pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan”.

Banyak hadits yang menerangkan terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi Saw : “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017).

Tanda Lailatul Qadar

Ibnu Hajar Al Asqolani berkata : “Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda lailatul qadar, namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.” (Fathul Bari, 4: 260).

Di antara yang menjadi dalil perkataan beliau di atas adalah hadits dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata : “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim no. 762).

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saw bersabda : “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 5475.)

Jika demikian, maka tidak perlu mencari-cari tanda lailatul qadar. Karena kebanyakan tanda yang ada muncul setelah malam itu terjadi. Yang mesti dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, niscaya akan mendapati malam penuh kemuliaan tersebut. Malam yang dinanti-nanti dan dirindukan setiap orang. Semoga kita termasuk yang beruntung memperolehnya. Meraih malam kemuliaan yang nilainya seperti 1000 bulan. Amin.


Hati-hati Pencuri Ramadhan

0

Hati-hati Pencuri Ramadhan
Oleh : Nurul Sakinah Bayti, S. Hut (Wirausaha)

Ketika handphone (Hp) menjadi hal yang tak terlewat untuk selalu dilihat, dilirik dan dipegang.Tiap menit sampai detik pun tak pernah lepas pengan Hp. Apakah sekedar baca, tulis, upload status bahkan bermain pun tak melepas Hp.

Seolah menjadi menu harian. Kalau tak melihat Hp, serasa ada yang hilang dalam hidup. Tak makan menjadi tak masalah. Asalkan bisa pegang Hp. Sampai lupa segalanya.

Bangun tidur membuka Hp. Selesai wudhu pegang Hp lagi. Selesai sholat pun Hp menjadi prioritas awal untuk dilirik. Rupanya daya pikat Hp melebihi segalanya.
Mulai dari anak kecil. Anak sekolah. Ibu rumah tangga. Bahkan Bapak-bapak pun tak mau ketinggalan. Serasa Hp memberikan kenyamanan tersendiri.

Hp Pencuri Waktu

Hari ke-20 Ramadan tak terasa. Begitu cepat waktu bergulir. Bulan berubah. Lantas sudahkan berbenah?
Sampai juz berapa Ukhti bacaan al Qur'annya? Hanya senyuman lebar sebagai jawaban target khataman masih jauh. Ketika memegang Hp sempat. Namun saat membuka al Qur'an serasa berat. Hati-hati kalau sudah begini.

Menjadi salah satu pencuri waktu selama bulan Ramahan ini adalah Hp. Tak terasa ketika dihadapnnya. Namun serasa lama kalau sudah membaca al Qur'an. Ditambah lagi kala membuka al Qur'an biasanya langsung godaan banyak bermunculan. Mata mulai pedas. Rasa kantuk yang tak tertahan. Segudang alasanpun bermunculan.

Sekedar berbagi buat ukhti. Bukan berarti sudah baik, namun belajar bersama menjadi baik tak ada salahnya. Ada beberapa hal yang perlu sama-sama kita perhatikan, diantaranya :

Pertama, kuatkan azam. Faidza azzamta fatawakkal 'alallah, jika sudah mempunyai azam/tekad maka bertawakkallah pada Allah. Tekad ini menjadi motivasi dasar bagi seseorang dalam beramal. Misal mentargetkan khatam al Qur'an selama bulan Ramadan dalam 1 kali khatam. Ketika target dibuat, tepati jadwalnya. Kejar targetnya. Kuatkan kembali tekad, bahwa ramadan belum tentu  datang berulang. Bisa jadi hari ini adalah ramadan terakhir untuk kita.

Kedua, lawan rasa malas. Penyakit yang biasa muncul pada diri setiap orang adalah malas. Siapapun pasti punya penyakit ini. Apakah pejabat atau rakyat. Baik guru atau murid. Baik Ustad atau jamaah. Salah satu godaan setan. Tak pernah senang melihat umatnya Muhammad saw  menyibukkan diri dalam ketaatan. Setan lebih girang, kalau umatnya Nabi saw banyak yang bermaksiat. Menunda-nunda waktu dan bermalas-malasan. Jika rasa malas mulai muncul, maka segera lakukan yang menjadi niatan. Bangun, ambil air wudhu dan bacalah al Qur'an.

Ketiga, buat target bersama. Bersama dalam ketaatan itu lebih indah. Ketika sendiri sulit terkontrol. Butuh teman yang mengingatkan ketika lupa. Teman yang memotivasi ketika penuh dengan masalah. Sehingga penting untuk buat target bersama. Ketika sudah dibuat, jangan lupa untuk memantau secara berkala. Harian atau mingguan misalanya. Sehingga ketika target belum tercapai, bisa segera untuk mengejarnya.

Keempat, luruskan niat. Inti semua amalan adalah niat. Ingat bahwa innamal a'malu bin niyat. Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat. Setan paling suka bermain di masalah hati ini. Sehingga penting bagi kita untuk senatisa menjaga niat. Ketika niat lurus saja belum tentu Allah SWT terima. Terlebih niat yang salah. Allah yang paling tahu apa yang tersembunyi dalam hati kita. Sehingga selalu bermohon pada Allah agar setiap niatan dan amalan kita menjadi pemberat dihadapanNya.

Ukhti, kita masih punya waktu 10 hari lagi. Yuk kita raih keutamaan-keutamaan Ramadan yang lainnya. Di malam-malam ganjil Alloh berikan malam yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan. Malam Laylatul qodar. Semoga Allah perkenankan kita memperoleh malam kemuliaan itu.

 Sebagaimana hadits Rosululloh saw : " Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi, Allah Ta’ala wajibkan kalian untuk berpuasa padanya, dibukakan padanya pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka Jahim, dan dibelenggu setan-setan yang membangkang. Pada bulan tersebut, Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (seseorang beribadah selama itu). Barangsiapa terhalang dari kebaikannya, sungguh ia orang yang terhalang (dari seluruh kebaikan)” (HR. An Nasa'i dan Ahmad).